Rabu, 17 Februari 2016

LIKA LIKU WAKTU 1

Aku hanyalah gadis sederhana. Parasku biasa saja, tak cantik jelita layaknya dewi surga. Kehidupanku pun tak bergelimang harta. Sejak kecil aku tinggal dengan kedua orang tuaku dengan penuh kedamaian laksana laut yang tenang tak berombak, ketentraman, dan kebahagiaan. Yang aku tahu hanyalah keceriaan yang selalu menyelimuti hari-hariku. Hingga suatu hari yang sangat kelam musibah datang menghampiri keluargaku. Setelah 2 bulan melahirkan adik pertamaku, ibuku mendapat kemalangan. Dia divonis menderita kanker payudara. Sejak kejadian itu, aku tahu kehidupanku yang ceria akan memudar. Senyum yang biasanya menghiasi wajahku perlahan-lahan pergi digantikan dengan gurat wajah kesedihan. Namun, aku berusaha keras untuk tetap tersenyum didepan ibu yang sangat aku cintai itu.
Saat aku tahu ibuku sakit, aku baru kelas 4 SD dan berumur 8 tahun. Aku belum mengerti benar apa itu kanker. Dan seperti apakah kanker itu. Aku hanya tahu bahwa penyakit yang diderita ibu, tidak seperti masuk angin atau pusing kepala yang dapat seketika hilang dengan meminum obat. Ketika kulihat wajah kekhawatiran pada ayah, kakek, nenek, bibi, dan pamanku, aku mulai bertanya-tanya penyakit seperti apakah itu. Mengapa mereka begitu cemas. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tidak terasa 3 tahun sudah ibuku berperang melawan penyakitnya. Dengan tulus, aku merawatnya. Aku berusaha memenuhi apapun yang dia minta. Bermacam-macam pengobatan sudah ibu dan ayahku coba lakukan. Dari sini aku tahu, kanker adalah penyakit yang mematikan.
Tubuh ibuku benar-benar kurus. Dari percakapan ayah dan nenek, aku tahu kanker ibu sudah memasuki stadium 4. Suasana di rumahku saat itu benar-benar berubah. Keceriaan yang dulu hilang entah kemana. Nenekku berkali-kali mengumpat kepada ayahku mengapa dulu dia tidak menerima saja sarannya untuk mengoperasi ibuku. Dari dialog panas itu aku mendengar berbagai alasan mengapa penderita kanker ganas sebaiknya tidak dioprasi. Alasan pertama, sel kanker akan sangat cepat sekali menyebar jika terkena udara luar, alasan kedua 80% penderita mengalami kegagalan operasi dan mereka akan meninggal beberapa bulan setelahnya. Oleh karena itu ayahku memilih jalan alternatif dengan memberikan berbagai ramuan tradisional.
Melihat kondisi ibu, aku takut Allah akan benar-benar memanggilnya sebentar lagi. Ibuku adalah sosok wanita yang sangat luar biasa. Jika dibandingkan dengan Raden Ajeng Kartini, ibuku tetap kunobatkan menjadi pahlawan wanita terhebat. Akhir-akhir ini, ditengah kondisinya yang semakin memburuk, ibuku tidak pernah absen melakukan shalat malam. Di sepertiga malam terakhir, dia gunakan untuk bersujud, bersimpuh, dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Dia menyadari benar bahwa semua yang ada di dunia adalah kepunyaanNya dan akan diminta kembali. Gurat wajah keikhlasan dan keteduhan dicampur kesakitan yang amat sangat memancar dari wajah ibuku. Wajah itulah yang selalu menenangkanku, wajah itulah yang tulus menyayangiku, dan wajah itulah yang penuh peluh keringat membesarkanku.
Hingga suatu pagi yang cerah, kabar mengagetkan sekaligus menyedihkan datang dari Surabaya. Saat itu ibuku sedang menjalani pengobatan alternatif di Surabaya. Memang selama 2 tahun terakhir ini, ibu dan ayahku sering bolak balik dari satu daerah ke daerah lain untuk melakukan pengobatan. Kabar itu bagaikan petir yang tiba-tiba menyambar atap rumahku. Tulang-tulangku seperti lumpuh, dan airmata mengalir membasahi wajah tanpa bisa dicegah. Kabar itu datang dari ayahku. Dia mengatakan bahwa ibuku mengalami patah kaki sebelah kiri karena tidak kuat menyangga berat tubuhnya. Ya Allah, saat itu aku benar-benar menangis. Aku menangis dalam kesendirian. Separah itukan kondisi ibu? Bahkan tulangnya mulai rapuh hingga tak kuat lagi berdiri.. Akhirnya ibu dibawa ke pengobatan alternatif untuk mempercepat penyatuan tulang yang patah.
Saat dibawa pulang, ibuku tidak lagi dapat berjalan. Dia digendong ayahku menuju kekamar. Selama ini tak pernah kulihat dia menangis. Tapi hari itu, aku meliat ibu meneteskan airmatanya. Hatiku perih, hancur, remuk. Entah mengapa melihatnya menangis sangat menyakitkan bagiku. Setiap hari sepulang sekolah, aku berusaha meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk menemani ibu. Karena beliau pasti sangat kesepian dan bosan tidur terus menerus diranjangnya. Terkadang aku menyuapinya, terkadang aku memandikannya, terkadang pula aku menyiapkan tempat untuknya buang air. Suatu saat dia mengatakan maaf karena merepotkanku, dia mengatakannya sambil menangis. Jujur aku tak kuasa. Tapi sekeras mungkin kucoba untuk tidak menangis.
Beberapa bulan kemudian, kondisi kaki ibu, berangsur-angsur membaik. Bahkan sudah dipastikan tulang yang patah telah menyatu kembali. Setelah itu, ayahku dengan pelan dan sangat hati-hati mengajak ibu untuk berlatih berjalan kembali. Meski sangat pelan, ibuku berhasil melawan ketakutannya dan dapat kembali melangkah.
Telah menjadi kebiasaan di minggu pagi, ibu selalu mendengarkan kajian ustad Danu yang bertajuk penyakit hati di salah satu tv nasional. Pagi itu, aku ikut menemaninya. Kajian ustad Danu tentang penyakit hati ini sangat menarik. Ustad Danu dapat mengatakan bahwa segala penyakit sumbernya adalah dari hati. Dalam kajian, beberapa orang bertanya tentang penyakit yang dideritanya dan ustad Danu menjelaskan penyebab timbulnya penyakit berasal dari salah satu penyakit hati yang dipendam. Tiba-tiba satu jama’ah kajian menanyakan hal yang menyita habis perhatianku. Aku yang awalnya bosan melihat acara tersebut langsung memasang telinga dan mataku. Kulirik ibuku, dari tadi dia selalu fokus mendengarkannya. Pertanyaan dari salah satu jama’ah persis seperti kondisi ibuku. Jama’ah tersebut menderita kanker payudara. Kata-kata yang keluar dari ustad Danu sangat kutunggu. Aku ingin mengetahui apa yang menjadi penyebab utama timbulnya penyakit mematikan itu. Jawaban ustad Danu benar-benar mencengangkan. Dengan terus mendengarkan aku melirik ibu, dia sesekali mengangguk mengiyakan penjelasan dari ustad Danu.
Setelah acara kajian itu selesai, kutanya ibu untuk memastikan apa yang tadi kudengar. Aku ingin mendengarkan jawaban langsung darinya.
“Bu, ” panggilku lembut.
“Ada apa ra?”
“Apa benar penyakit ibu datang karena rasa mangkel yang ibu pendam ke ayah?” tanyaku memberanikan diri.
“Kalau menurutmu gimana ra? “
“Aku ngga’ tau bu,”
“Ra, kamu tahu kan, selama ini ibu yang bekerja keras menghidupi kalian. Sedangkan ayahmu setiap usahanya tidak pernah berhasil. Ayahmu tidak memenuhi kewajibannya mencari nafkah untuk keluarga. Sebelum ibu diangkat pegawai negeri seperti ini, gaji ibu tidak akan cukup untuk makan dan menyekolahkanmu. Selama ini, sambil mengajar ibu selingi dengan jualan berbagai macam barang. Ibu juga menjual makanan dan jajan. Kamu juga sering bantuin ibu masak kan kalau pagi. Yang bikin ibu kadang kecewa sama ayah kamu, dia ga pernah ngerti kondisi ibu. Dia ga pernah berusaha membantu ibu. Malahan setiap pagi waktu ibu memasak sendirian, dia masih saja tidur. Dan ketika ibu membangunkan untuk minta dibantuin, ga jarang ibu malah dimarahi ra. “
“Maaf ra, kalau ibu harus cerita seperti ini ke kamu. Ibu pikir kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti ini,” kata ibuku lembut.
“Bu, aku tahu emang kesalahan ayah besar, tapi apa ga sebaiknya ibu minta maaf, bilang sama ayah kalau selama ini ibu menyimpan mangkel sama ayah, seperti yang dibilang ustad danu,” ucapku polos.
“Sudah ra,” kata ibu sambil tersenyum
“Bu, apa ibu ga pernah nyuruh ayah kerja apa gitu,”
“Ibu cerita ya ra, ayah kamu itu dulu orang yang sangat cerdas. Waktu sekolah dia selalu juara. Ayah kamu yang anak pertama, dulu hidupnya cukup menderita. Sejak kecil, dia selalu bantu nenek dan kakekmu kerja, disawah, momong, dan banyak lagi. Karena dulu hidup ayahmu cukup sengsara, sekarang dia tidak ingin merasakan sengsara lagi. Selain itu, ayah kamu ga mau kerja kecil-kecilan, ayah kamu ga mau kerja kasar, ga mau kerja bawahan. Dia maunya kerja yang gajinya langsung banyak. Dia maunya langsung jadi bos.”
“Ibu bilangin ke kamu ya Zhafira, sesuatu yang besar itu dimulai dari sesuatu yang kecil dulu. Kalau kamu liat orang-orang yang sukses disana, mereka pasti melewati saat-saat sulit yang luar biasa. Mereka ga akan mungkin langsung jadi bos, mereka pasti merasakan menjadi bawahan. Tapi prinsip ayahmu lain. Itu yang ga bisa ibu ubah. Makanya kerja apapun, ayahmu sulit berhasil.”
Aku terdiam mendengar cerita ibu. Aku mencoba memahami semua kalimat yang ibu ucapkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar