Aku
hanyalah gadis sederhana. Parasku biasa saja, tak cantik jelita layaknya dewi
surga. Kehidupanku pun tak bergelimang harta. Sejak kecil aku tinggal dengan
kedua orang tuaku dengan penuh kedamaian laksana laut yang tenang tak berombak,
ketentraman, dan kebahagiaan. Yang aku tahu hanyalah keceriaan yang selalu
menyelimuti hari-hariku. Hingga suatu hari yang sangat kelam musibah datang
menghampiri keluargaku. Setelah 2 bulan melahirkan adik pertamaku, ibuku
mendapat kemalangan. Dia divonis menderita kanker payudara. Sejak kejadian itu,
aku tahu kehidupanku yang ceria akan memudar. Senyum yang biasanya menghiasi
wajahku perlahan-lahan pergi digantikan dengan gurat wajah kesedihan. Namun,
aku berusaha keras untuk tetap tersenyum didepan ibu yang sangat aku cintai
itu.
Saat
aku tahu ibuku sakit, aku baru kelas 4 SD dan berumur 8 tahun. Aku belum
mengerti benar apa itu kanker. Dan seperti apakah kanker itu. Aku hanya tahu
bahwa penyakit yang diderita ibu, tidak seperti masuk angin atau pusing kepala
yang dapat seketika hilang dengan meminum obat. Ketika kulihat wajah
kekhawatiran pada ayah, kakek, nenek, bibi, dan pamanku, aku mulai
bertanya-tanya penyakit seperti apakah itu. Mengapa mereka begitu cemas. Hari
berganti bulan, bulan berganti tahun, tidak terasa 3 tahun sudah ibuku
berperang melawan penyakitnya. Dengan tulus, aku merawatnya. Aku berusaha
memenuhi apapun yang dia minta. Bermacam-macam pengobatan sudah ibu dan ayahku
coba lakukan. Dari sini aku tahu, kanker adalah penyakit yang mematikan.
Tubuh
ibuku benar-benar kurus. Dari percakapan ayah dan nenek, aku tahu kanker ibu
sudah memasuki stadium 4. Suasana di rumahku saat itu benar-benar berubah.
Keceriaan yang dulu hilang entah kemana. Nenekku berkali-kali mengumpat kepada
ayahku mengapa dulu dia tidak menerima saja sarannya untuk mengoperasi ibuku.
Dari dialog panas itu aku mendengar berbagai alasan mengapa penderita kanker
ganas sebaiknya tidak dioprasi. Alasan pertama, sel kanker akan sangat cepat
sekali menyebar jika terkena udara luar, alasan kedua 80% penderita mengalami
kegagalan operasi dan mereka akan meninggal beberapa bulan setelahnya. Oleh
karena itu ayahku memilih jalan alternatif dengan memberikan berbagai ramuan
tradisional.
Melihat
kondisi ibu, aku takut Allah akan benar-benar memanggilnya sebentar lagi. Ibuku
adalah sosok wanita yang sangat luar biasa. Jika dibandingkan dengan Raden
Ajeng Kartini, ibuku tetap kunobatkan menjadi pahlawan wanita terhebat.
Akhir-akhir ini, ditengah kondisinya yang semakin memburuk, ibuku tidak pernah
absen melakukan shalat malam. Di sepertiga malam terakhir, dia gunakan untuk
bersujud, bersimpuh, dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Dia menyadari benar
bahwa semua yang ada di dunia adalah kepunyaanNya dan akan diminta kembali.
Gurat wajah keikhlasan dan keteduhan dicampur kesakitan yang amat sangat
memancar dari wajah ibuku. Wajah itulah yang selalu menenangkanku, wajah itulah
yang tulus menyayangiku, dan wajah itulah yang penuh peluh keringat
membesarkanku.
Hingga
suatu pagi yang cerah, kabar mengagetkan sekaligus menyedihkan datang dari
Surabaya. Saat itu ibuku sedang menjalani pengobatan alternatif di Surabaya. Memang
selama 2 tahun terakhir ini, ibu dan ayahku sering bolak balik dari satu daerah
ke daerah lain untuk melakukan pengobatan. Kabar itu bagaikan petir yang
tiba-tiba menyambar atap rumahku. Tulang-tulangku seperti lumpuh, dan airmata
mengalir membasahi wajah tanpa bisa dicegah. Kabar itu datang dari ayahku. Dia
mengatakan bahwa ibuku mengalami patah kaki sebelah kiri karena tidak kuat
menyangga berat tubuhnya. Ya Allah, saat itu aku benar-benar menangis. Aku
menangis dalam kesendirian. Separah itukan kondisi ibu? Bahkan tulangnya mulai
rapuh hingga tak kuat lagi berdiri.. Akhirnya ibu dibawa ke pengobatan
alternatif untuk mempercepat penyatuan tulang yang patah.
Saat
dibawa pulang, ibuku tidak lagi dapat berjalan. Dia digendong ayahku menuju
kekamar. Selama ini tak pernah kulihat dia menangis. Tapi hari itu, aku meliat
ibu meneteskan airmatanya. Hatiku perih, hancur, remuk. Entah mengapa melihatnya
menangis sangat menyakitkan bagiku. Setiap hari sepulang sekolah, aku berusaha
meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk menemani ibu. Karena beliau pasti
sangat kesepian dan bosan tidur terus menerus diranjangnya. Terkadang aku
menyuapinya, terkadang aku memandikannya, terkadang pula aku menyiapkan tempat
untuknya buang air. Suatu saat dia mengatakan maaf karena merepotkanku, dia
mengatakannya sambil menangis. Jujur aku tak kuasa. Tapi sekeras mungkin kucoba
untuk tidak menangis.
Beberapa
bulan kemudian, kondisi kaki ibu, berangsur-angsur membaik. Bahkan sudah
dipastikan tulang yang patah telah menyatu kembali. Setelah itu, ayahku dengan
pelan dan sangat hati-hati mengajak ibu untuk berlatih berjalan kembali. Meski
sangat pelan, ibuku berhasil melawan ketakutannya dan dapat kembali melangkah.
Telah
menjadi kebiasaan di minggu pagi, ibu selalu mendengarkan kajian ustad Danu
yang bertajuk penyakit hati di salah satu tv nasional. Pagi itu, aku ikut
menemaninya. Kajian ustad Danu tentang penyakit hati ini sangat menarik. Ustad
Danu dapat mengatakan bahwa segala penyakit sumbernya adalah dari hati. Dalam
kajian, beberapa orang bertanya tentang penyakit yang dideritanya dan ustad
Danu menjelaskan penyebab timbulnya penyakit berasal dari salah satu penyakit
hati yang dipendam. Tiba-tiba satu jama’ah kajian menanyakan hal yang menyita
habis perhatianku. Aku yang awalnya bosan melihat acara tersebut langsung
memasang telinga dan mataku. Kulirik ibuku, dari tadi dia selalu fokus
mendengarkannya. Pertanyaan dari salah satu jama’ah persis seperti kondisi
ibuku. Jama’ah tersebut menderita kanker payudara. Kata-kata yang keluar dari ustad
Danu sangat kutunggu. Aku ingin mengetahui apa yang menjadi penyebab utama
timbulnya penyakit mematikan itu. Jawaban ustad Danu benar-benar mencengangkan.
Dengan terus mendengarkan aku melirik ibu, dia sesekali mengangguk mengiyakan
penjelasan dari ustad Danu.
Setelah
acara kajian itu selesai, kutanya ibu untuk memastikan apa yang tadi kudengar.
Aku ingin mendengarkan jawaban langsung darinya.
“Bu,
” panggilku lembut.
“Ada
apa ra?”
“Apa
benar penyakit ibu datang karena rasa mangkel
yang ibu pendam ke ayah?” tanyaku memberanikan diri.
“Kalau
menurutmu gimana ra? “
“Aku
ngga’ tau bu,”
“Ra,
kamu tahu kan, selama ini ibu yang bekerja keras menghidupi kalian. Sedangkan
ayahmu setiap usahanya tidak pernah berhasil. Ayahmu tidak memenuhi
kewajibannya mencari nafkah untuk keluarga. Sebelum ibu diangkat pegawai negeri
seperti ini, gaji ibu tidak akan cukup untuk makan dan menyekolahkanmu. Selama
ini, sambil mengajar ibu selingi dengan jualan berbagai macam barang. Ibu juga
menjual makanan dan jajan. Kamu juga sering bantuin ibu masak kan kalau pagi.
Yang bikin ibu kadang kecewa sama ayah kamu, dia ga pernah ngerti kondisi ibu.
Dia ga pernah berusaha membantu ibu. Malahan setiap pagi waktu ibu memasak
sendirian, dia masih saja tidur. Dan ketika ibu membangunkan untuk minta
dibantuin, ga jarang ibu malah dimarahi ra. “
“Maaf
ra, kalau ibu harus cerita seperti ini ke kamu. Ibu pikir kamu sudah cukup
dewasa untuk mengerti ini,” kata ibuku lembut.
“Bu,
aku tahu emang kesalahan ayah besar, tapi apa ga sebaiknya ibu minta maaf,
bilang sama ayah kalau selama ini ibu menyimpan mangkel sama ayah, seperti yang dibilang ustad danu,” ucapku polos.
“Sudah
ra,” kata ibu sambil tersenyum
“Bu,
apa ibu ga pernah nyuruh ayah kerja apa gitu,”
“Ibu
cerita ya ra, ayah kamu itu dulu orang yang sangat cerdas. Waktu sekolah dia
selalu juara. Ayah kamu yang anak pertama, dulu hidupnya cukup menderita. Sejak
kecil, dia selalu bantu nenek dan kakekmu kerja, disawah, momong, dan banyak lagi. Karena dulu hidup ayahmu cukup sengsara,
sekarang dia tidak ingin merasakan sengsara lagi. Selain itu, ayah kamu ga mau
kerja kecil-kecilan, ayah kamu ga mau kerja kasar, ga mau kerja bawahan. Dia
maunya kerja yang gajinya langsung banyak. Dia maunya langsung jadi bos.”
“Ibu
bilangin ke kamu ya Zhafira, sesuatu yang besar itu dimulai dari sesuatu yang
kecil dulu. Kalau kamu liat orang-orang yang sukses disana, mereka pasti
melewati saat-saat sulit yang luar biasa. Mereka ga akan mungkin langsung jadi
bos, mereka pasti merasakan menjadi bawahan. Tapi prinsip ayahmu lain. Itu yang
ga bisa ibu ubah. Makanya kerja apapun, ayahmu sulit berhasil.”
Aku
terdiam mendengar cerita ibu. Aku mencoba memahami semua kalimat yang ibu
ucapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar