Minggu, 21 Februari 2016

LIKA LIKU WAKTU 2

Suasana di ruang persalinan memang benar-benar menegangkan. Semua orang baik dia yang sedang melahirkan maupun tidak, sama-sama bermuka takut, tegang, cemas, dan khawatir bercampur jadi satu. Saat ini aku berada di salah satu rumah sakit mewah di Surabaya. Rumah sakit ini dikenal dengan nama Rumah Sakit Lambok 22. Mengapa dibilang mewah? ya karena interior bagian dalamnya yang luar biasa. Disana-sini kita dapat menemukan hiasan-hiasan dinding yang indah. Setiap kamar pun didesain dengan sempurna demi kenyamanan pasien. Rumah sakit tersebut jika dilihat sekilas mirip dengan hotel bintang 5. Biaya periksa, opname, atau konsultasi dokter pun tidak main-main. Untuk biaya opname, satu kamar akan dikenai tarif Rp 1.000.000 per malam.
Dan disinilah ibuku dirawat saat ini. Dia memang tengah berjuang melahirkan adikku yang kedua. Selain berjuang untuk melahirkan, ibuku juga berjuang melawan penyakitnya yang semakin membabi buta. Tak bisa kubayangkan seperti apa rasa sakit yang dirasakan olehnya. Tapi dari guratan wajahnya, aku yakin rasa sakit itu tidak main-main. Aku semakin tidak kuasa melihatnya. Bebagai doa, dzikir, maupun ayat suci al-qur’an tidak pernah berhenti kupanjatkan demi memohon keselamatan ibuku.
Enam bulan yang lalu, saat usia kehamilan ibu memasuki tiga bulan, dia baru menyadari bahwa dia sedang mengandung. Ibuku mengalami reaksi biasa seperti ibu-ibu yang sedang hamil. Seperti telat menstruasi, mual, dan nyidam. Namun, ibu tidak menyadarinya. Ibu menganggap telat menstruasi adalah hal yang biasa dikarenakan penyakitnya yang mulai memasuki stadium akhir. Sedangkan mual, ibu menganngapnya hanya masuk angin. Setelah nenekku curiga, barulah ibu mencoba mengeceknya dengan testpack. Dan ternyata benar ibuku sedang mengandung.
Kebahagiaan karena berita kehamilan biasanya menyelimuti keluarga. Namun hal itu berbeda dengan keluargaku. Kebahagiaan itu bercampur dengan kekhawatiran yang amat dalam. Bagaimana tidak, kondisi ibuku yang benar-benar lemah akan sulit untuk mengandung selama sembilan bulan. Apalagi ketika melahirkan nanti. Dan bagaimana pula kondisi bayinya. Apakah ibu dapat memenuhi nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembang bayi. Berbagai prasangka buruk tentang kondisi ibu dan kondisi bayi menggelayuti bayangan seluruh keluargaku. Tetapi ibuku segera menepis bayangan itu. Dia meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja dan akan melahirkan bayinya dengan selamat.
Beberapa hari setelah kabar menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan itu datang, ibu segera memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dari sana diperoleh informasi bahwa kehamilan ibu sudah memasuki usia tiga bulan. Ketika dokter tahu bahwa ibu sedang mengidap kanker payudara stadium empat, dia menjadi sangat pesimis. Bahkan dokter menyalahkan ayahku mengapa dia bisa seceroboh itu. Penuturan dokter selanjutnya bak halilintar yang menyambar persis didepan mata. Semua ucapannya menyentak seluruh perasaan ayah dan ibuku.
”Ini harus saya sampaikan kepada bapak dan ibu, melihat kondisi ibu yang seperti ini, tidak mungkin untuk melanjutkan kehamilannya. Wanita hamil harus mempunyai tubuh yang kuat dan sehat agar nutrisi kepada bayi dapat terjaga. Karena nutrisi itu penting untuk tumbuh kembang bayi,”
“Lalu harus bagaimana dok?” Tanya ayahku.
“Saya sarankan, ibu melakukan kiret. Ibu harus menggugurkan kandungan ibu, jika diteruskan saya khawatir ibu tidak akan bertahan sampai ibu melahirkan. Atau jika ibu bisa bertahan kemungkinan besar anak ibu akan cacat atau bahkan tidak bisa diselamatkan.”
“Tidak, saya tidak mungkin membunuh anak saya sendiri dengan menggugurkannya,” bantah ibu tegas.
“Tapi itu yang terbaik bu, ibu harus segera melakukannya selagi kehamilan ibu masih muda. Semakin tua kehamilan, itu akan semakin membahayakan ibu,” jelas dokter.
“Biar kami pikirkan dulu dok, kami janji akan segera memberikan jawaban,” ucap ayahku.
“Baik, saya tunggu kabarnya,”
“Kami permisi dok,”
Pertimbangan untuk menggugurkan atau mempertahankan kandungan berlangsung sangat dilematis. Ayahku sudah berusaha sekeras mungkin membujuk ibuku untuk menggugurkan kandungannya. Namun ibu tetap kekeuh tidak mau menggugurkannya. Ibu akan terus berjuang sampai dia bisa melahirkan adikku dengan selamat. Dan dia akan memperjuangkan nutrisi adikku agar lahir dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan apapun. Disinilah aku melihat sosok ibu yang luar biasa tangguh. Ditengah penyakitnya yang bagaikan ombak mengikis batu karang, penyakitnya yang sedikit demi sedikit merenggut kekuatannya, ibu tetap memperjuangkan bayi yang bahkan belum bernyawa dikandungannya. Dan bayi itu pula yang kemungkinan besar dapat merenggut nyawa ibuku kapan saja.
“Bu, kenapa ibu tidak menggugurkan kandungan ibu saja?” tanyaku setelah mendengar perbincangan panas antara ayah, ibu dan nenekku.
“Kamu sudah dengar kabar itu ya ra? Keputusan yang harus ibu ambil ini benar-benar berat ra. Keputusan ini bagaikan buah simalakama. Kalau dimakan salah, kalau tidak dimakan pun salah. “
“Maksudnya gimana itu bu?” tanyaku bingung.
“Ra, kalau misalnya ibu menggugurkan kandungan ini, itu berarti ibu tidak mengizinkan adikmu ini merasakan hidup didunia. Padahal ibu tidak punya hak untuk itu. Yang berhak hanya Allah. Kalau ibu menggugurkan kandungan ini, ibu akan sangat berdosa karena ibu akan membunuh anak ibu sendiri.”
“Tapi ini kan demi kebaikan bu, biar ibu mempunyai umur lebih panjang lagi. Bukankah kata dokter ibu tidak akan bisa bertahan sampai melahirkan jika ibu terus mempertahankan kandungan?”
“Denger ya ra, umur itu hanya milik Allah. meskipun dokter mengatakan bahwa ibu tidak akan bertahan sampai melahirkan, atau dokter mengatakan umur ibu tinggal satu bulan. Ibu tetap percaya Allah akan menolong kita ra. Ibu akan berdoa, meminta kepada Allah agar bisa bertahan sampai melahirkan. Ibu juga akan berjuang untuk adikmu ini ra.”
Aku terhenyak mendengar jawaban ibu. Aku tidak bisa membantah lagi. Dilihat darimana pun semua yang ibu ucapkan memang benar. Akupun mulai berjanji dengan diriku sendiri, aku akan turut berdoa agar ibu dan adikku diselamatkan. Agar semua perjuangan ibu tidak sia-sia.
Akhirnya tidak ada yang bisa mengubah keputusan ibuku. Dia tetap mempertahankan kandungannya. Hingga memasuki usia 7 bulan kehamilan, ibu telah belasan kali melakukan check up ke dokter untuk mengetahui kondisi bayinya. Dan pada hari ini, ibu dan ayahku akan kembali check up. Yang berbeda dengan check up kali ini adalah ibu dan ayah dapat melakukan USG. Ibu dan ayah dapat melihat secara langsung di monitor kondisi bayi, bahkan jenis kelamin bayi.
Namun kebahagiaan untuk melakukan USG sirna seketika. Badai dan prahara kembali datang menyapa kedua orang tuaku. Ketika USG dilakukan, dapat dilihat pada layar bahwa kondisi bayi sangat memprihatinkan. Bayi tersebut kurus dan pendek sekali. Benar-benar dibawah standar ukuran bayi yang seharusnya. Dari USG juga diketahui adikku berjenis kelamin perempuan. Dokter mengatakan bahwa dia benar-benar pesimis dengan kondisi bayi. Dia tidak yakin bayi akan sehat dan normal saat lahir nanti. Bahkan dokter tidak yakin bayi akan selamat. Kejadian tersebut membuat ibu terpukul begitu dalam. Namun dia tahu, dia harus segera bangkit dan berdoa serta berjuang lebih keras lagi agar bayinya dapat lahir dengan sehat dan normal.
“Ra, adikmu sudah lahir,” ucap nenekku membuyarkan seluruh lamunan kilas balik kejadian beberapa bulan yang lalu. Nenekku memang saat itu ikut masuk ke ruang persalinan, menunggui ibuku yang sedang melahirkan. Dan aku hanya menunggu diluar karena tidak diizinkan masuk.
“Benarkah? Alhamdulillah ya Allah, gimana kondisinya nek?” tanyaku antusias.
“Adikmu laki-laki, normal, beratnya 3,25, ibumu juga baik-baik saja,”
“SubhanaAllah,”
Bulan dan bintang 9 0ktober 2009 seakan ikut tersenyum mengiringi kebahagiaan seluruh keluargaku. Tepat jam 23.00, ibuku melahirkan adikku yang kedua secara normal dengan kondisi sehat. Ini benar-benar mukjizat yang luar biasa. Hanya Allah yang mampu menurunkan karunia yang begitu besar ini. Semua prasangka buruk tentang kondisi ibuku dan kondisi bayi yang selama ini menggelayuti bayanganku hilang seketika. Dokter yang awalnya pesimis dan mengatakan ibuku tidak akan bertahan takjub dengan lancarnya proses persalinan. Dokter yang awalnya ragu akan kondisi bayi yang kurus dan kecil takjub dengan kondisi adikku yang normal, dengan berat normal dan panjang yang normal pula. Bukan hanya dokter yang takjub, namun aku dan seluruh keluargaku merasakan hal yang sama.
Mukjizat itu masih belum berhenti. Dokter hendy, dokter kandungan yang selama ini menangani ibuku, mengontrol kondisi ibuku dan bahkan membantu proses persalinan ibuku tiba-tiba tidak mau dibayar. Saat mengurus administrasi, ayahku kaget karena mereka hanya dikenakan biaya kamar yaitu sebesar Rp 4.000.000.
“Mbak, maaf apa ini tidak salah hitung? Apa benar saya hanya harus membayar empat juta?” Tanya ayahku bingung.
“Benar pak, saya akan menjelaskan rinciannya kepada Bapak, empat juta ini adalah biaya opname ibu Ana selama empat hari di rumah sakit Lambok 22 ini,” jelas pengurus administrasi.
“Bukankah saya juga perlu membayar jasa Dokternya mbak?”
“Ya itu memang benar, tapi dokter Hendy mengatakan kepada saya untuk memberikan pengecualian pada pasien yang bernama ibu Ana.”
“Pengecualian seperti apa yang mbak maksud?”
“Dokter Hendy mengatakan bahwa untuk pasien yang bernama ibu Ana, jasa dokter tidak perlu dibayar,”
“Mengapa seperti itu mbak?” Tanya ayahku semakin bingung.
“Untuk urusan itu saya sendiri tidak tahu pak. Bapak bisa menanyakannya sendiri pada dokter Hendy.”
“Baik mbak terimakasih,” kata ayahku sambil menyerahkan uang empat juta.
Seluruh keluargaku terheran-heran mendengar cerita ayah tentang kejadian saat mengurus administrasi. Bagaimana mungkin ada seorang dokter tidak mau dibayar atas jasanya. Bahkan sepeserpun dia tidak memintanya. Padahal bisa dibayangkan betapa banyak waktu dan tenaga yang terkuras demi mengurus ibuku. Saat kami sekeluarga tengah asyik membincangkan keanehan ini, sejurus kemudian dokter Hendy, dokter berparas china berkulit putih dan bermata sipit yang sedang menjadi buah bibir kami datang menghampiri. Dia seakan tahu dan menyadari keheranan kami. Langkahnya santai namun menunjukkan kewibawaan sebagai seorang dokter. Kalau kutaksir, umurnya sekitar 40 an. Sontak kami semua menoleh dan memandanginya.
“Selamat siang,” sapanya ramah sambil menunggingkan senyum kearah kami.
“Selamat siang dokter,” sahut ayahku.
“Saya hanya ingin mengucapkan selamat atas kelahiran anak bapak, saya terharu sekali. Baru sekali ini saya menangani kasus seperti ini. Dan puji Tuhan, saya berhasil menanganinya dengan baik. Ini pasti karena Tuhan memberkati kita semua.”
“Terimakasih dokter, Allah memang maha penolong. Semua yang tidak mungkin, semua yang mustahil bisa terjadi kalau Dia menghendaki. Oo, iya pak, berhubung ada pak dokter disini, ada yang saya ingin tanyakan”
“Silahkan pak, apa yang Bapak ingin tanyakan?”
“Saya tadi telah mengurus administrasi, tapi ada yang membuat kami heran. Bagaimana mungkin biaya dokter tidak perlu dibayar?”
“Oh, itu. Maaf kalau saya membuat Bapak sekeluarga bingung. Saya memang sengaja memberitahukan kepada bagian administrasi untuk menggratiskan biaya dokter pada bu Ana.”
“Tapi kenapa dok? Saya tidak mengerti?” Tanya ayah bingung. Kami semua pun tak berhenti mengalihkan pandangan pada dokter Hendy.
“Tidak ada apa-apa pak, itu hanyalah wujud rasa syukur saya karena saya berhasil menangani kasus seperti ini. Awalnya saya benar-benar takut, cemas dan pesimis. Saya takut mengecewakan kalian semua. Setiap hari, saya selalu mengamati kalian, saya melihat kalian begitu menyayangi ibu Ana. Melihatnya membuat saya terharu. Saya yakin ibu Ana adalah orang yang sangat baik. Makanya saya berusaha keras, dan juga berdoa agar saya tidak mengecewakan kalian. Dan proses persalinan tadi malam benar-benar menakjubkan. Saya benar-benar tidak menyangka. Tidak pernah sebelumnya kejadian seperti ini.” Ungkap dokter Hendy berkaca-kaca.
“Itulah yang disebut mukjizat dok. Alhamdulillah, Terimakasih banyak dokter. Saya tidak akan pernah melupakan jasa dokter selama hidup saya. Dan entah bagaimana caranya saya akan berusaha membalas kebaikan dokter.”
“Tidak usah seperti itu pak, ini semua sudah jalan Tuhan. Ya sudah pak, saya permisi, sekali lagi selamat. Dan ibu Ana sudah boleh pulang.”

Aku terpukau dengan dokter itu. Kebaikannya, keramahannya, kesantunannya benar-benar luar biasa. Tahmid berulang kali kuucapkan sebagai rasa syukurku kepada Allah. Semua yang terjadi benar-benar karena pertolonganNya. Dan dalam hatiku terselip suatu janji, bahwa aku akan berusaha membalas jasa dokter itu. Suatu saat nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar