“aku hanya seorang anak kampung yang nekat
meninggalkan Emak demi menggapai cita – cita setinggi bintang, di sini”
Namaku Haryono, aku lahir di sebuah desa kecil yang sebagian besar
penduduk bumi ini tidak tahu keberadaannya. Ya, memang sangat terpencil, ia di
apit oleh 4 barisan hutan di sisi utara, barat, timur, dan selatannya. Tapi
disitulah sisi manisnya, dari sanalah aku lahir, dan aku mencintai tempat
kelahiranku. Desa itu bernama Boto, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora,
Jawa Tengah. Delapan belas tahun atau tepatnya 6570 hari aku hidup di sana.
Mulai dari melihat dunia pertama kali, hingga merayakan euforia kelulusan masa putih abu-abu.
Besok,
tepatnya tanggal 24 Mei aku berulang tahun yang ke 19. Hmm, sudah hampir
setahun aku disini, jauh dari tempat kelahiranku dan orang – orang yang aku
cintai. Tak usah ditanya lagi, seberapa banyak rindu yang kurasakan. Kalaupun
harus dinominalkan, aku tak tahu berapa deret angka yang tepat untuk
dituliskan, tapi mungkin akan lebih tepat jika kutuliskan
(tak terhingga). Jangan bilang
aku berlebihan, tapi memang ini yang kurasakan. Bayangkan saja, dalam setahun
aku hanya mempunyai waktu bertemu keluargaku tidak lebih dari satu bulan. Tapi
apa daya, aku harus mengejar cita – citaku di sini, di Astra Honda Motor.
Tempat yang dulu aku impikan.
Perjuanganku
untuk sampai di sini tidak semudah membalikkan telapak tangan, kira – kira begitu
peribahasa yang sering diungkapkan orang – orang. Awalnya, aku banyak
ditentang. Kakakku yang sekarang menjadi seorang pembela tanah air dengan
seragam hijaunya, membuatku dituntut untuk mengikuti jejaknya. Tapi kupikir,
bukan disana jiwaku. Hati kecilku pun menolaknya.
“Maafkan aku ayah, ibu, aku tak bermaksud
menolak keinginanmu, tapi aku berjanji tak kan mengecewakanmu, aku kan
bersungguh – sungguh di sini, aku kan membuatmu bangga meski tak berseragam
hijau”, ucapku dalam hati.
Astra
Honda Motor yang terletak di Jalan Raya Kalimantan Blok AA, Cikarang, Jawa Barat
adalah tempatku menimba ilmu sekarang ini. Aku bekerja di bagian assy whell, atau biasa disebut
pemasangan roda. Aku cukup menikmati hari – hariku pada awalnya. Namun lama kelamaan
monoton juga rasanya. Kebosanan pun selalu menghinggapi. Dan ketika “si bosan”
datang mengganggu, aku sadar bahwa aku telah terpaut janji suci pada
orangtuaku, serta janji pada AHM yang telah tersirat dalam ikrar insan AHM. Meskipun
janji tersebut tidak tertera di atas kertas putih dengan pena hitam, aku tetap
tidak boleh melanggarnya.
“Akan menjadi suatu pantangan bagi laki – laki
sejati untuk melanggar janjinya. Karna seorang lelaki yang baik adalah lelaki
yang bisa dipegang omongannya” begitulah yang pernah ibuku ucapkan.
Sampai detik ini, kata – kata itu selalu
terngiang – ngiang di kepalaku. Ibuku bak Mario Teguh yang setiap ucapannya
menimbulkan bekas yang dalam bagi pendengarnya. Ah, aku mulai rindu padanya.
Setiap mililiter rinduku padanya
selalu kujadikan motivasi untuk memenuhi janjiku pada AHM. Kenapa AHM? Karena
suksesku di AHM berarti janjiku padanya telah kutepati.
Sejujurnya, tidaklah berat apa yang kujanjikan
pada tempatku bernaung sekarang ini. Biar kujelaskan. Janjiku yang pertama
adalah “selalu disiplin, bertanggung jawab, dan patuh terhadap peraturan
perusahaan”, InsyaAllah, akan kupenuhi dengan segenap kemampuanku. Pernah suatu
kali, kondisi tubuhku benar – benar dibawah ambang batas normal, singkatnya
sakit. Dan saat itu, aku harus bekerja di shift
3. Bingung melandaku saat itu. Haruskah aku membolos? Kulihat jam dinding di
tembok kamarku menunjukkan pukul 11.15. Dan aku masih terbalut selimut tebal
untuk menahan hawa dingin malam itu. Akhirnya dengan segelintir kekuatan yang
tersisa, aku memutuskan untuk tetap masuk. Kuminum sesachet tolak angin, dan berangkat dengan penuh keyakinan bahwa aku
pasti kuat.
Berlebihan memang, tapi kurasa disinilah
perjuangannya. Semua orang pasti harus berjuang untuk semua yang dicita –
citakan. Tak perduli dalam kondisi apapun itu. Seperti salah satu pahlawan
kita, sosok yang kita kenal sebagai pemimpin pasukan gerilya. Dengan berbaring
di atas tandu dan satu paru – paru tersisa, beliau memperjuangkan cita –
citanya yaitu kemerdekaan Negara Indonesia. Jendral Soedirman, seorang jendral
sejati yang mungkin tak bisa lagi kita temui Jendral Soedirman – Jendral
Soedirman lain di era globalisasi ini.
Dan janjiku yang kedua adalah “menjunjung
tinggi produktivitas dan menghasilkan produk yang berkualitas”. Kurasa ini
cukup berat, pada awalnya. Tanpa keterampilan, aku sangat kesulitan mengerjakan
semua ini. Bayangkan saja, aku seorang lulusan SMA Negeri jurusan IPA. Dan
ketika masuk ke sini pertama kali, aku bagaikan tersesat di padang pasir, tak
tahu apa yang harus kulakukan. Hal ini pasti sangat jauh berbeda dengan teman –
teman seperjuanganku lainnya yang lulusan SMK jurusan otomotif. Tapi hebatnya
AHM, kita disini juga belajar. Lihatlah sekarang, aku telah cukup lihai dan
terampil dalam menggeluti bidangku.
And the third is “menghargai
sesama dan membina kerja sama”. Kuakui kedewasaanku masih sebesar biji jagung.
Kurasa aku adalah orang yang cukup egois dalam berbagai hal. Memandang rendah
orang lain pun tak luput dari kebisaaanku. Namun, hidupku yang sendiri
sekarang, membuatku banyak berfikir. Aku belajar bahwa banyak orang yang
awalnya ku anggap remeh, tapi dia jauh lebih hebat dariku. Aku punya seorang
teman yang jika kesabarannya diukur, mungkin lebih panjang dari jarak matahari
ke bumi. Ia seorang tuna rungu. Tapi hebatnya, ia tetap semangat menjalani hidupnya
yang pasti lebih dari sekedar sepi. Malam – malam yang kulalui selama ini
terasa sia – sia. Tak ada satupun hal membanggakan yang telah kubuat. Padahal
aku dianugerahi kesempurnaan.
Last,
“senantiasa menjaga dan membela Astra Honda Motor sebagai sawah ladang kami”.
Dan inilah janji terakhir yang kadang pelaksanaanya digoyahkan oleh ketidakonsistenan
dan godaan – godaan teman, bukan setan. Ketidakkonsistenan itu muncul saat “si bosan”
dengan tidak bosan mengganggu pikiran ini setiap saat. Ajakan suara hati dan
didukung oleh godaan teman – temanku untuk mencari tempat bernaung lain,
membuatku terombang ambing oleh gelombang kebingunganku sendiri. Kegalauanku bisa
saja dengan mudahnya menghancurkan tembok keimananku belajar di AHM, yang
kubangun kuat – kuat menggunakan semen holcim,
yang dipercaya tidak akan hancur di cuaca apapun. Namun nyatanya, iklan semen holcim itu palsu. Tembok itu sekarang
sudah mulai keropos bak tulang yang osteoporosis
karena tidak meminum anlene.
Tapi, seperti halnya tulang yang osteoporosis,
kekeroposan itu dapat diobati dengan banyak hal, misalnya meminum anlene, atau jalan kaki seribu langkah
setiap hari. Tembok keimananku pun dapat dikuatkan lagi. Dan hal yang paling
menguatkannya adalah janjiku serta suara musik serta lirik lagu mars AHM yang
masih tersimpan di memori ponselku. Entahlah, aku enggan untuk mendeletenya. Bahkan kadang kusetel
kembali, minimal untuk mengingatkan bahwa aku punya cita – cita setinggi
bintang yang ingin kucapai di sini.
Walaupun, sebagian besar orang berfikir lagu
mars itu nggak keren, tapi aku bangga bisa mendengarnya. Aku bahkan yakin tidak
semua orang bisa menyimpan lagu ini di memori ponselnya. Berbeda halnya dengan
lagu – lagu coldplay yang dianggap keren. Semua orang di muka bumi ini bisa
saja mendownloadnya dengan percuma
dan menyimpannya di ponsel mereka. Alasan lain yang membuatku menyimpan lagu
“nggak keren menurut sebagian besar orang” itu adalah getaran di segenap jiwaku
setiap mendengar liriknya. Entah kenapa, sejak pertama diperdengarkan aku telah
jatuh cinta pada semuanya, lagu itu, perusahaan ini, teman – temanku di sini,
bahkan ban – ban kendaraan yang kuperlakukan lebih dari kekasihku. Ya iyalah,
kurang lebih 10 jam aku hanya berkutat dengan ban, kalau dengan pacar? Mana
boleh? Hehe.
Dari rasa cinta itu, mulai tumbuh rasa bangga
dengan tempat ini. Tempat yang memberiku pengalaman yang luar biasa berharga.
Telah menjadi kewajiban bagiku untuk melakukan yang terbaik demi tempat ini.
Kemajuan perusahaan AHM bergantung pada karya yang kita ciptakan. Yang bisa
kulakukan adalah bekerja dibidangku dengan sungguh – sungguh, menjaga
perusahaan ini lebih dari aku menjaga jiwaku, menggapai cita – cita yang selalu
kukhayalkan dulu, serta berbuat baik kepada semua, baik rekan kerja maupun
atasan yang biasanya lebih galak, hehe. Keinginanku untuk tinggal di sini
sangatlah besar. Bahkan kalau bisa, aku ingin meminta izin untuk menghabiskan
masa tuaku di sini. Aku memang selalu berlebihan dalam mengungkapkan berbagai
hal. Namun ketahuilah, itu semua karena aku begitu mencintai tempat ini. Memang
benar kata pepatah, “cinta itu bisa merubah segalanya”.
Tapi apa daya, kalau memang masa kontrak ini
sudah tak bisa diperpanjang lagi, aku memang harus menginjakkan kaki untuk
pergi dari sini. Bukan diusir, itu terlalu kasar. Hanya mengikuti aturan bahwa
mulai tanggal tertentu aku sudah tidak diperkenankan lagi berkarya di sini.
Tapi seperti dalam surat Al Insyirah “sesunguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan”, setiap masalah pasti ada solusinya itu janji Allah. Kontrak kerja
tersebut dapat diperpanjang, bila memang benar – benar bersungguh – sungguh.
Caranya adalah dengan membuat sebanyak mungkin proposal. Dan rencananya, aku
akan terus membuat proposal yang jika di timbang berapa banyaknya, mungkin
lebih berat dari pada berat gajah lampung dewasa. Selain diperpanjang, kita
juga bisa diangkat menjadi pegawai tetap disini. Yang diperlukan hanyalah
bekerja keras dan taat peraturan.
Sangat disayangkan, Indonesia belum bisa
membuat perusahaan perakit kendaraan sendiri. Kita hanya bergantung pada Negara
lain dan tidak mempercayai kemampuan kita sendiri. Seperti pesawat buatan bapak
habibi, yang mungkin sekarang ini berada di gudang lusuh, dan yang menaikinya
dalah tikus – tikus. Dulu, tak ada satupun orang percaya bahwa pesawat tersebut
dapat digunakan. Mereka menganggap karya Indonesia tidak akan baik dan mengancam
keselamatan. Pesimistis, itu kata yang tepat untuk mengomentari peristiwa
tersebut. Sebenarnya jutaan orang di Indonesia ini pandai dalam berbagai hal. Entahlah,
mental kita yang buruk membuat kita terbelakang dan takut untuk memulai segala
sesuatu.
Tapi dibalik itu semua, aku tetap mencintai tanah
tempatku berpijak sekarang ini. Tanah yang memberiku kehidupan dan kedamaian.
Tanah yang airnya menyelamatkanku dari kehausan. Serta tanah yang darinya
tumbuh padi menguning yang menghindarkanku dari kelaparan. Suatu keharusan bagi
kita semua sebagai generasi penerus Negara ini memberikan timbal balik atas apa
yang bangsa ini telah berikan kepada kita. Dan apa yang bisa kuberikan? Mungkin
karya terbaikku yang kuciptakan lewat Astra Honda Motor ini. Yang nantinya,
produk AHM dipergunakan oleh orang – orang Indonesia. Setidaknya, kita di AHM
menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.
Lampiran
IKRAR INSAN AHM
Kami insan astra Honda motor berjanji
1. Selalu disiplin, bertanggungjawab, dan patuh
terhadap peraturan perusahaan
2. Menjunjung tinggi produktivitas dan
menghasilkan produk yang berkualitas
3. Menghargai sesama dan membina kerja sama
4. Senantiasa menjaga dan membela Astra Honda Motor
sebagai sawah ladang kami.
MARS AHM
Astra Honda motor tempat kita berkarya
Tempat menggapai cita – cita kita
Mari kita jaga, kita bela bersama
Capai masa depan cerah sejahtera
Nilai satu hati falsafah kita
Satukan visi misi kita bersama
AHM milik kita
AHM ladang kita
Untuk harumkan nusa dan bangsa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar