Suasana
di ruang persalinan memang benar-benar menegangkan. Semua orang baik dia yang
sedang melahirkan maupun tidak, sama-sama bermuka takut, tegang, cemas, dan
khawatir bercampur jadi satu. Saat ini aku berada di salah satu rumah sakit
mewah di Surabaya. Rumah sakit ini dikenal dengan nama Rumah Sakit Lambok 22.
Mengapa dibilang mewah? ya karena interior bagian dalamnya yang luar biasa.
Disana-sini kita dapat menemukan hiasan-hiasan dinding yang indah. Setiap kamar
pun didesain dengan sempurna demi kenyamanan pasien. Rumah sakit tersebut jika
dilihat sekilas mirip dengan hotel bintang 5. Biaya periksa, opname, atau
konsultasi dokter pun tidak main-main. Untuk biaya opname, satu kamar akan dikenai
tarif Rp 1.000.000 per malam.
Dan
disinilah ibuku dirawat saat ini. Dia memang tengah berjuang melahirkan adikku
yang kedua. Selain berjuang untuk melahirkan, ibuku juga berjuang melawan
penyakitnya yang semakin membabi buta. Tak bisa kubayangkan seperti apa rasa
sakit yang dirasakan olehnya. Tapi dari guratan wajahnya, aku yakin rasa sakit
itu tidak main-main. Aku semakin tidak kuasa melihatnya. Bebagai doa, dzikir,
maupun ayat suci al-qur’an tidak pernah berhenti kupanjatkan demi memohon
keselamatan ibuku.
Enam
bulan yang lalu, saat usia kehamilan ibu memasuki tiga bulan, dia baru
menyadari bahwa dia sedang mengandung. Ibuku mengalami reaksi biasa seperti
ibu-ibu yang sedang hamil. Seperti telat menstruasi, mual, dan nyidam. Namun,
ibu tidak menyadarinya. Ibu menganggap telat menstruasi adalah hal yang biasa
dikarenakan penyakitnya yang mulai memasuki stadium akhir. Sedangkan mual, ibu
menganngapnya hanya masuk angin. Setelah nenekku curiga, barulah ibu mencoba
mengeceknya dengan testpack. Dan ternyata benar ibuku sedang mengandung.
Kebahagiaan
karena berita kehamilan biasanya menyelimuti keluarga. Namun hal itu berbeda
dengan keluargaku. Kebahagiaan itu bercampur dengan kekhawatiran yang amat
dalam. Bagaimana tidak, kondisi ibuku yang benar-benar lemah akan sulit untuk
mengandung selama sembilan bulan. Apalagi ketika melahirkan nanti. Dan
bagaimana pula kondisi bayinya. Apakah ibu dapat memenuhi nutrisi yang
diperlukan untuk tumbuh kembang bayi. Berbagai prasangka buruk tentang kondisi
ibu dan kondisi bayi menggelayuti bayangan seluruh keluargaku. Tetapi ibuku
segera menepis bayangan itu. Dia meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja dan
akan melahirkan bayinya dengan selamat.
Beberapa
hari setelah kabar menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan itu datang, ibu
segera memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dari sana diperoleh informasi
bahwa kehamilan ibu sudah memasuki usia tiga bulan. Ketika dokter tahu bahwa
ibu sedang mengidap kanker payudara stadium empat, dia menjadi sangat pesimis.
Bahkan dokter menyalahkan ayahku mengapa dia bisa seceroboh itu. Penuturan
dokter selanjutnya bak halilintar yang menyambar persis didepan mata. Semua
ucapannya menyentak seluruh perasaan ayah dan ibuku.
”Ini
harus saya sampaikan kepada bapak dan ibu, melihat kondisi ibu yang seperti
ini, tidak mungkin untuk melanjutkan kehamilannya. Wanita hamil harus mempunyai
tubuh yang kuat dan sehat agar nutrisi kepada bayi dapat terjaga. Karena
nutrisi itu penting untuk tumbuh kembang bayi,”
“Lalu
harus bagaimana dok?” Tanya ayahku.
“Saya
sarankan, ibu melakukan kiret. Ibu harus menggugurkan kandungan ibu, jika
diteruskan saya khawatir ibu tidak akan bertahan sampai ibu melahirkan. Atau jika
ibu bisa bertahan kemungkinan besar anak ibu akan cacat atau bahkan tidak bisa
diselamatkan.”
“Tidak,
saya tidak mungkin membunuh anak saya sendiri dengan menggugurkannya,” bantah
ibu tegas.
“Tapi
itu yang terbaik bu, ibu harus segera melakukannya selagi kehamilan ibu masih
muda. Semakin tua kehamilan, itu akan semakin membahayakan ibu,” jelas dokter.
“Biar
kami pikirkan dulu dok, kami janji akan segera memberikan jawaban,” ucap
ayahku.
“Baik,
saya tunggu kabarnya,”
“Kami
permisi dok,”
Pertimbangan
untuk menggugurkan atau mempertahankan kandungan berlangsung sangat dilematis.
Ayahku sudah berusaha sekeras mungkin membujuk ibuku untuk menggugurkan
kandungannya. Namun ibu tetap kekeuh
tidak mau menggugurkannya. Ibu akan terus berjuang sampai dia bisa melahirkan
adikku dengan selamat. Dan dia akan memperjuangkan nutrisi adikku agar lahir
dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan apapun. Disinilah aku melihat sosok
ibu yang luar biasa tangguh. Ditengah penyakitnya yang bagaikan ombak mengikis
batu karang, penyakitnya yang sedikit demi sedikit merenggut kekuatannya, ibu
tetap memperjuangkan bayi yang bahkan belum bernyawa dikandungannya. Dan bayi
itu pula yang kemungkinan besar dapat merenggut nyawa ibuku kapan saja.
“Bu,
kenapa ibu tidak menggugurkan kandungan ibu saja?” tanyaku setelah mendengar
perbincangan panas antara ayah, ibu dan nenekku.
“Kamu
sudah dengar kabar itu ya ra? Keputusan yang harus ibu ambil ini benar-benar
berat ra. Keputusan ini bagaikan buah simalakama. Kalau dimakan salah, kalau
tidak dimakan pun salah. “
“Maksudnya
gimana itu bu?” tanyaku bingung.
“Ra,
kalau misalnya ibu menggugurkan kandungan ini, itu berarti ibu tidak
mengizinkan adikmu ini merasakan hidup didunia. Padahal ibu tidak punya hak
untuk itu. Yang berhak hanya Allah. Kalau ibu menggugurkan kandungan ini, ibu
akan sangat berdosa karena ibu akan membunuh anak ibu sendiri.”
“Tapi
ini kan demi kebaikan bu, biar ibu mempunyai umur lebih panjang lagi. Bukankah
kata dokter ibu tidak akan bisa bertahan sampai melahirkan jika ibu terus
mempertahankan kandungan?”
“Denger
ya ra, umur itu hanya milik Allah. meskipun dokter mengatakan bahwa ibu tidak
akan bertahan sampai melahirkan, atau dokter mengatakan umur ibu tinggal satu
bulan. Ibu tetap percaya Allah akan menolong kita ra. Ibu akan berdoa, meminta
kepada Allah agar bisa bertahan sampai melahirkan. Ibu juga akan berjuang untuk
adikmu ini ra.”
Aku
terhenyak mendengar jawaban ibu. Aku tidak bisa membantah lagi. Dilihat
darimana pun semua yang ibu ucapkan memang benar. Akupun mulai berjanji dengan
diriku sendiri, aku akan turut berdoa agar ibu dan adikku diselamatkan. Agar
semua perjuangan ibu tidak sia-sia.
Akhirnya
tidak ada yang bisa mengubah keputusan ibuku. Dia tetap mempertahankan
kandungannya. Hingga memasuki usia 7 bulan kehamilan, ibu telah belasan kali
melakukan check up ke dokter untuk
mengetahui kondisi bayinya. Dan pada hari ini, ibu dan ayahku akan kembali check up. Yang berbeda dengan check up kali ini adalah ibu dan ayah
dapat melakukan USG. Ibu dan ayah dapat melihat secara langsung di monitor
kondisi bayi, bahkan jenis kelamin bayi.
Namun
kebahagiaan untuk melakukan USG sirna seketika. Badai dan prahara kembali datang
menyapa kedua orang tuaku. Ketika USG dilakukan, dapat dilihat pada layar bahwa
kondisi bayi sangat memprihatinkan. Bayi tersebut kurus dan pendek sekali.
Benar-benar dibawah standar ukuran bayi yang seharusnya. Dari USG juga
diketahui adikku berjenis kelamin perempuan. Dokter mengatakan bahwa dia
benar-benar pesimis dengan kondisi bayi. Dia tidak yakin bayi akan sehat dan
normal saat lahir nanti. Bahkan dokter tidak yakin bayi akan selamat. Kejadian
tersebut membuat ibu terpukul begitu dalam. Namun dia tahu, dia harus segera
bangkit dan berdoa serta berjuang lebih keras lagi agar bayinya dapat lahir
dengan sehat dan normal.
“Ra,
adikmu sudah lahir,” ucap nenekku membuyarkan seluruh lamunan kilas balik
kejadian beberapa bulan yang lalu. Nenekku memang saat itu ikut masuk ke ruang
persalinan, menunggui ibuku yang sedang melahirkan. Dan aku hanya menunggu
diluar karena tidak diizinkan masuk.
“Benarkah?
Alhamdulillah ya Allah, gimana kondisinya nek?” tanyaku antusias.
“Adikmu
laki-laki, normal, beratnya 3,25, ibumu juga baik-baik saja,”
“SubhanaAllah,”
Bulan
dan bintang 9 0ktober 2009 seakan ikut tersenyum mengiringi kebahagiaan seluruh
keluargaku. Tepat jam 23.00, ibuku melahirkan adikku yang kedua secara normal
dengan kondisi sehat. Ini benar-benar mukjizat yang luar biasa. Hanya Allah
yang mampu menurunkan karunia yang begitu besar ini. Semua prasangka buruk
tentang kondisi ibuku dan kondisi bayi yang selama ini menggelayuti bayanganku
hilang seketika. Dokter yang awalnya pesimis dan mengatakan ibuku tidak akan
bertahan takjub dengan lancarnya proses persalinan. Dokter yang awalnya ragu
akan kondisi bayi yang kurus dan kecil takjub dengan kondisi adikku yang
normal, dengan berat normal dan panjang yang normal pula. Bukan hanya dokter
yang takjub, namun aku dan seluruh keluargaku merasakan hal yang sama.
Mukjizat
itu masih belum berhenti. Dokter hendy, dokter kandungan yang selama ini
menangani ibuku, mengontrol kondisi ibuku dan bahkan membantu proses persalinan
ibuku tiba-tiba tidak mau dibayar. Saat mengurus administrasi, ayahku kaget
karena mereka hanya dikenakan biaya kamar yaitu sebesar Rp 4.000.000.
“Mbak,
maaf apa ini tidak salah hitung? Apa benar saya hanya harus membayar empat
juta?” Tanya ayahku bingung.
“Benar
pak, saya akan menjelaskan rinciannya kepada Bapak, empat juta ini adalah biaya
opname ibu Ana selama empat hari di rumah sakit Lambok 22 ini,” jelas pengurus
administrasi.
“Bukankah
saya juga perlu membayar jasa Dokternya mbak?”
“Ya
itu memang benar, tapi dokter Hendy mengatakan kepada saya untuk memberikan
pengecualian pada pasien yang bernama ibu Ana.”
“Pengecualian
seperti apa yang mbak maksud?”
“Dokter
Hendy mengatakan bahwa untuk pasien yang bernama ibu Ana, jasa dokter tidak
perlu dibayar,”
“Mengapa
seperti itu mbak?” Tanya ayahku semakin bingung.
“Untuk
urusan itu saya sendiri tidak tahu pak. Bapak bisa menanyakannya sendiri pada
dokter Hendy.”
“Baik
mbak terimakasih,” kata ayahku sambil menyerahkan uang empat juta.
Seluruh
keluargaku terheran-heran mendengar cerita ayah tentang kejadian saat mengurus
administrasi. Bagaimana mungkin ada seorang dokter tidak mau dibayar atas
jasanya. Bahkan sepeserpun dia tidak memintanya. Padahal bisa dibayangkan
betapa banyak waktu dan tenaga yang terkuras demi mengurus ibuku. Saat kami
sekeluarga tengah asyik membincangkan keanehan ini, sejurus kemudian dokter Hendy,
dokter berparas china berkulit putih dan bermata sipit yang sedang menjadi buah
bibir kami datang menghampiri. Dia seakan tahu dan menyadari keheranan kami.
Langkahnya santai namun menunjukkan kewibawaan sebagai seorang dokter. Kalau
kutaksir, umurnya sekitar 40 an. Sontak kami semua menoleh dan memandanginya.
“Selamat
siang,” sapanya ramah sambil menunggingkan senyum kearah kami.
“Selamat
siang dokter,” sahut ayahku.
“Saya
hanya ingin mengucapkan selamat atas kelahiran anak bapak, saya terharu sekali.
Baru sekali ini saya menangani kasus seperti ini. Dan puji Tuhan, saya berhasil
menanganinya dengan baik. Ini pasti karena Tuhan memberkati kita semua.”
“Terimakasih
dokter, Allah memang maha penolong. Semua yang tidak mungkin, semua yang
mustahil bisa terjadi kalau Dia menghendaki. Oo, iya pak, berhubung ada pak
dokter disini, ada yang saya ingin tanyakan”
“Silahkan
pak, apa yang Bapak ingin tanyakan?”
“Saya
tadi telah mengurus administrasi, tapi ada yang membuat kami heran. Bagaimana
mungkin biaya dokter tidak perlu dibayar?”
“Oh,
itu. Maaf kalau saya membuat Bapak sekeluarga bingung. Saya memang sengaja
memberitahukan kepada bagian administrasi untuk menggratiskan biaya dokter pada
bu Ana.”
“Tapi
kenapa dok? Saya tidak mengerti?” Tanya ayah bingung. Kami semua pun tak
berhenti mengalihkan pandangan pada dokter Hendy.
“Tidak
ada apa-apa pak, itu hanyalah wujud rasa syukur saya karena saya berhasil
menangani kasus seperti ini. Awalnya saya benar-benar takut, cemas dan pesimis.
Saya takut mengecewakan kalian semua. Setiap hari, saya selalu mengamati
kalian, saya melihat kalian begitu menyayangi ibu Ana. Melihatnya membuat saya
terharu. Saya yakin ibu Ana adalah orang yang sangat baik. Makanya saya
berusaha keras, dan juga berdoa agar saya tidak mengecewakan kalian. Dan proses
persalinan tadi malam benar-benar menakjubkan. Saya benar-benar tidak
menyangka. Tidak pernah sebelumnya kejadian seperti ini.” Ungkap dokter Hendy
berkaca-kaca.
“Itulah
yang disebut mukjizat dok. Alhamdulillah, Terimakasih banyak dokter. Saya tidak
akan pernah melupakan jasa dokter selama hidup saya. Dan entah bagaimana
caranya saya akan berusaha membalas kebaikan dokter.”
“Tidak
usah seperti itu pak, ini semua sudah jalan Tuhan. Ya sudah pak, saya permisi,
sekali lagi selamat. Dan ibu Ana sudah boleh pulang.”
Aku
terpukau dengan dokter itu. Kebaikannya, keramahannya, kesantunannya
benar-benar luar biasa. Tahmid berulang kali kuucapkan sebagai rasa syukurku
kepada Allah. Semua yang terjadi benar-benar karena pertolonganNya. Dan dalam
hatiku terselip suatu janji, bahwa aku akan berusaha membalas jasa dokter itu.
Suatu saat nanti.