Minggu, 21 Februari 2016

LIKA LIKU WAKTU 2

Suasana di ruang persalinan memang benar-benar menegangkan. Semua orang baik dia yang sedang melahirkan maupun tidak, sama-sama bermuka takut, tegang, cemas, dan khawatir bercampur jadi satu. Saat ini aku berada di salah satu rumah sakit mewah di Surabaya. Rumah sakit ini dikenal dengan nama Rumah Sakit Lambok 22. Mengapa dibilang mewah? ya karena interior bagian dalamnya yang luar biasa. Disana-sini kita dapat menemukan hiasan-hiasan dinding yang indah. Setiap kamar pun didesain dengan sempurna demi kenyamanan pasien. Rumah sakit tersebut jika dilihat sekilas mirip dengan hotel bintang 5. Biaya periksa, opname, atau konsultasi dokter pun tidak main-main. Untuk biaya opname, satu kamar akan dikenai tarif Rp 1.000.000 per malam.
Dan disinilah ibuku dirawat saat ini. Dia memang tengah berjuang melahirkan adikku yang kedua. Selain berjuang untuk melahirkan, ibuku juga berjuang melawan penyakitnya yang semakin membabi buta. Tak bisa kubayangkan seperti apa rasa sakit yang dirasakan olehnya. Tapi dari guratan wajahnya, aku yakin rasa sakit itu tidak main-main. Aku semakin tidak kuasa melihatnya. Bebagai doa, dzikir, maupun ayat suci al-qur’an tidak pernah berhenti kupanjatkan demi memohon keselamatan ibuku.
Enam bulan yang lalu, saat usia kehamilan ibu memasuki tiga bulan, dia baru menyadari bahwa dia sedang mengandung. Ibuku mengalami reaksi biasa seperti ibu-ibu yang sedang hamil. Seperti telat menstruasi, mual, dan nyidam. Namun, ibu tidak menyadarinya. Ibu menganggap telat menstruasi adalah hal yang biasa dikarenakan penyakitnya yang mulai memasuki stadium akhir. Sedangkan mual, ibu menganngapnya hanya masuk angin. Setelah nenekku curiga, barulah ibu mencoba mengeceknya dengan testpack. Dan ternyata benar ibuku sedang mengandung.
Kebahagiaan karena berita kehamilan biasanya menyelimuti keluarga. Namun hal itu berbeda dengan keluargaku. Kebahagiaan itu bercampur dengan kekhawatiran yang amat dalam. Bagaimana tidak, kondisi ibuku yang benar-benar lemah akan sulit untuk mengandung selama sembilan bulan. Apalagi ketika melahirkan nanti. Dan bagaimana pula kondisi bayinya. Apakah ibu dapat memenuhi nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembang bayi. Berbagai prasangka buruk tentang kondisi ibu dan kondisi bayi menggelayuti bayangan seluruh keluargaku. Tetapi ibuku segera menepis bayangan itu. Dia meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja dan akan melahirkan bayinya dengan selamat.
Beberapa hari setelah kabar menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan itu datang, ibu segera memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dari sana diperoleh informasi bahwa kehamilan ibu sudah memasuki usia tiga bulan. Ketika dokter tahu bahwa ibu sedang mengidap kanker payudara stadium empat, dia menjadi sangat pesimis. Bahkan dokter menyalahkan ayahku mengapa dia bisa seceroboh itu. Penuturan dokter selanjutnya bak halilintar yang menyambar persis didepan mata. Semua ucapannya menyentak seluruh perasaan ayah dan ibuku.
”Ini harus saya sampaikan kepada bapak dan ibu, melihat kondisi ibu yang seperti ini, tidak mungkin untuk melanjutkan kehamilannya. Wanita hamil harus mempunyai tubuh yang kuat dan sehat agar nutrisi kepada bayi dapat terjaga. Karena nutrisi itu penting untuk tumbuh kembang bayi,”
“Lalu harus bagaimana dok?” Tanya ayahku.
“Saya sarankan, ibu melakukan kiret. Ibu harus menggugurkan kandungan ibu, jika diteruskan saya khawatir ibu tidak akan bertahan sampai ibu melahirkan. Atau jika ibu bisa bertahan kemungkinan besar anak ibu akan cacat atau bahkan tidak bisa diselamatkan.”
“Tidak, saya tidak mungkin membunuh anak saya sendiri dengan menggugurkannya,” bantah ibu tegas.
“Tapi itu yang terbaik bu, ibu harus segera melakukannya selagi kehamilan ibu masih muda. Semakin tua kehamilan, itu akan semakin membahayakan ibu,” jelas dokter.
“Biar kami pikirkan dulu dok, kami janji akan segera memberikan jawaban,” ucap ayahku.
“Baik, saya tunggu kabarnya,”
“Kami permisi dok,”
Pertimbangan untuk menggugurkan atau mempertahankan kandungan berlangsung sangat dilematis. Ayahku sudah berusaha sekeras mungkin membujuk ibuku untuk menggugurkan kandungannya. Namun ibu tetap kekeuh tidak mau menggugurkannya. Ibu akan terus berjuang sampai dia bisa melahirkan adikku dengan selamat. Dan dia akan memperjuangkan nutrisi adikku agar lahir dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan apapun. Disinilah aku melihat sosok ibu yang luar biasa tangguh. Ditengah penyakitnya yang bagaikan ombak mengikis batu karang, penyakitnya yang sedikit demi sedikit merenggut kekuatannya, ibu tetap memperjuangkan bayi yang bahkan belum bernyawa dikandungannya. Dan bayi itu pula yang kemungkinan besar dapat merenggut nyawa ibuku kapan saja.
“Bu, kenapa ibu tidak menggugurkan kandungan ibu saja?” tanyaku setelah mendengar perbincangan panas antara ayah, ibu dan nenekku.
“Kamu sudah dengar kabar itu ya ra? Keputusan yang harus ibu ambil ini benar-benar berat ra. Keputusan ini bagaikan buah simalakama. Kalau dimakan salah, kalau tidak dimakan pun salah. “
“Maksudnya gimana itu bu?” tanyaku bingung.
“Ra, kalau misalnya ibu menggugurkan kandungan ini, itu berarti ibu tidak mengizinkan adikmu ini merasakan hidup didunia. Padahal ibu tidak punya hak untuk itu. Yang berhak hanya Allah. Kalau ibu menggugurkan kandungan ini, ibu akan sangat berdosa karena ibu akan membunuh anak ibu sendiri.”
“Tapi ini kan demi kebaikan bu, biar ibu mempunyai umur lebih panjang lagi. Bukankah kata dokter ibu tidak akan bisa bertahan sampai melahirkan jika ibu terus mempertahankan kandungan?”
“Denger ya ra, umur itu hanya milik Allah. meskipun dokter mengatakan bahwa ibu tidak akan bertahan sampai melahirkan, atau dokter mengatakan umur ibu tinggal satu bulan. Ibu tetap percaya Allah akan menolong kita ra. Ibu akan berdoa, meminta kepada Allah agar bisa bertahan sampai melahirkan. Ibu juga akan berjuang untuk adikmu ini ra.”
Aku terhenyak mendengar jawaban ibu. Aku tidak bisa membantah lagi. Dilihat darimana pun semua yang ibu ucapkan memang benar. Akupun mulai berjanji dengan diriku sendiri, aku akan turut berdoa agar ibu dan adikku diselamatkan. Agar semua perjuangan ibu tidak sia-sia.
Akhirnya tidak ada yang bisa mengubah keputusan ibuku. Dia tetap mempertahankan kandungannya. Hingga memasuki usia 7 bulan kehamilan, ibu telah belasan kali melakukan check up ke dokter untuk mengetahui kondisi bayinya. Dan pada hari ini, ibu dan ayahku akan kembali check up. Yang berbeda dengan check up kali ini adalah ibu dan ayah dapat melakukan USG. Ibu dan ayah dapat melihat secara langsung di monitor kondisi bayi, bahkan jenis kelamin bayi.
Namun kebahagiaan untuk melakukan USG sirna seketika. Badai dan prahara kembali datang menyapa kedua orang tuaku. Ketika USG dilakukan, dapat dilihat pada layar bahwa kondisi bayi sangat memprihatinkan. Bayi tersebut kurus dan pendek sekali. Benar-benar dibawah standar ukuran bayi yang seharusnya. Dari USG juga diketahui adikku berjenis kelamin perempuan. Dokter mengatakan bahwa dia benar-benar pesimis dengan kondisi bayi. Dia tidak yakin bayi akan sehat dan normal saat lahir nanti. Bahkan dokter tidak yakin bayi akan selamat. Kejadian tersebut membuat ibu terpukul begitu dalam. Namun dia tahu, dia harus segera bangkit dan berdoa serta berjuang lebih keras lagi agar bayinya dapat lahir dengan sehat dan normal.
“Ra, adikmu sudah lahir,” ucap nenekku membuyarkan seluruh lamunan kilas balik kejadian beberapa bulan yang lalu. Nenekku memang saat itu ikut masuk ke ruang persalinan, menunggui ibuku yang sedang melahirkan. Dan aku hanya menunggu diluar karena tidak diizinkan masuk.
“Benarkah? Alhamdulillah ya Allah, gimana kondisinya nek?” tanyaku antusias.
“Adikmu laki-laki, normal, beratnya 3,25, ibumu juga baik-baik saja,”
“SubhanaAllah,”
Bulan dan bintang 9 0ktober 2009 seakan ikut tersenyum mengiringi kebahagiaan seluruh keluargaku. Tepat jam 23.00, ibuku melahirkan adikku yang kedua secara normal dengan kondisi sehat. Ini benar-benar mukjizat yang luar biasa. Hanya Allah yang mampu menurunkan karunia yang begitu besar ini. Semua prasangka buruk tentang kondisi ibuku dan kondisi bayi yang selama ini menggelayuti bayanganku hilang seketika. Dokter yang awalnya pesimis dan mengatakan ibuku tidak akan bertahan takjub dengan lancarnya proses persalinan. Dokter yang awalnya ragu akan kondisi bayi yang kurus dan kecil takjub dengan kondisi adikku yang normal, dengan berat normal dan panjang yang normal pula. Bukan hanya dokter yang takjub, namun aku dan seluruh keluargaku merasakan hal yang sama.
Mukjizat itu masih belum berhenti. Dokter hendy, dokter kandungan yang selama ini menangani ibuku, mengontrol kondisi ibuku dan bahkan membantu proses persalinan ibuku tiba-tiba tidak mau dibayar. Saat mengurus administrasi, ayahku kaget karena mereka hanya dikenakan biaya kamar yaitu sebesar Rp 4.000.000.
“Mbak, maaf apa ini tidak salah hitung? Apa benar saya hanya harus membayar empat juta?” Tanya ayahku bingung.
“Benar pak, saya akan menjelaskan rinciannya kepada Bapak, empat juta ini adalah biaya opname ibu Ana selama empat hari di rumah sakit Lambok 22 ini,” jelas pengurus administrasi.
“Bukankah saya juga perlu membayar jasa Dokternya mbak?”
“Ya itu memang benar, tapi dokter Hendy mengatakan kepada saya untuk memberikan pengecualian pada pasien yang bernama ibu Ana.”
“Pengecualian seperti apa yang mbak maksud?”
“Dokter Hendy mengatakan bahwa untuk pasien yang bernama ibu Ana, jasa dokter tidak perlu dibayar,”
“Mengapa seperti itu mbak?” Tanya ayahku semakin bingung.
“Untuk urusan itu saya sendiri tidak tahu pak. Bapak bisa menanyakannya sendiri pada dokter Hendy.”
“Baik mbak terimakasih,” kata ayahku sambil menyerahkan uang empat juta.
Seluruh keluargaku terheran-heran mendengar cerita ayah tentang kejadian saat mengurus administrasi. Bagaimana mungkin ada seorang dokter tidak mau dibayar atas jasanya. Bahkan sepeserpun dia tidak memintanya. Padahal bisa dibayangkan betapa banyak waktu dan tenaga yang terkuras demi mengurus ibuku. Saat kami sekeluarga tengah asyik membincangkan keanehan ini, sejurus kemudian dokter Hendy, dokter berparas china berkulit putih dan bermata sipit yang sedang menjadi buah bibir kami datang menghampiri. Dia seakan tahu dan menyadari keheranan kami. Langkahnya santai namun menunjukkan kewibawaan sebagai seorang dokter. Kalau kutaksir, umurnya sekitar 40 an. Sontak kami semua menoleh dan memandanginya.
“Selamat siang,” sapanya ramah sambil menunggingkan senyum kearah kami.
“Selamat siang dokter,” sahut ayahku.
“Saya hanya ingin mengucapkan selamat atas kelahiran anak bapak, saya terharu sekali. Baru sekali ini saya menangani kasus seperti ini. Dan puji Tuhan, saya berhasil menanganinya dengan baik. Ini pasti karena Tuhan memberkati kita semua.”
“Terimakasih dokter, Allah memang maha penolong. Semua yang tidak mungkin, semua yang mustahil bisa terjadi kalau Dia menghendaki. Oo, iya pak, berhubung ada pak dokter disini, ada yang saya ingin tanyakan”
“Silahkan pak, apa yang Bapak ingin tanyakan?”
“Saya tadi telah mengurus administrasi, tapi ada yang membuat kami heran. Bagaimana mungkin biaya dokter tidak perlu dibayar?”
“Oh, itu. Maaf kalau saya membuat Bapak sekeluarga bingung. Saya memang sengaja memberitahukan kepada bagian administrasi untuk menggratiskan biaya dokter pada bu Ana.”
“Tapi kenapa dok? Saya tidak mengerti?” Tanya ayah bingung. Kami semua pun tak berhenti mengalihkan pandangan pada dokter Hendy.
“Tidak ada apa-apa pak, itu hanyalah wujud rasa syukur saya karena saya berhasil menangani kasus seperti ini. Awalnya saya benar-benar takut, cemas dan pesimis. Saya takut mengecewakan kalian semua. Setiap hari, saya selalu mengamati kalian, saya melihat kalian begitu menyayangi ibu Ana. Melihatnya membuat saya terharu. Saya yakin ibu Ana adalah orang yang sangat baik. Makanya saya berusaha keras, dan juga berdoa agar saya tidak mengecewakan kalian. Dan proses persalinan tadi malam benar-benar menakjubkan. Saya benar-benar tidak menyangka. Tidak pernah sebelumnya kejadian seperti ini.” Ungkap dokter Hendy berkaca-kaca.
“Itulah yang disebut mukjizat dok. Alhamdulillah, Terimakasih banyak dokter. Saya tidak akan pernah melupakan jasa dokter selama hidup saya. Dan entah bagaimana caranya saya akan berusaha membalas kebaikan dokter.”
“Tidak usah seperti itu pak, ini semua sudah jalan Tuhan. Ya sudah pak, saya permisi, sekali lagi selamat. Dan ibu Ana sudah boleh pulang.”

Aku terpukau dengan dokter itu. Kebaikannya, keramahannya, kesantunannya benar-benar luar biasa. Tahmid berulang kali kuucapkan sebagai rasa syukurku kepada Allah. Semua yang terjadi benar-benar karena pertolonganNya. Dan dalam hatiku terselip suatu janji, bahwa aku akan berusaha membalas jasa dokter itu. Suatu saat nanti.

Rabu, 17 Februari 2016

LIKA LIKU WAKTU 1

Aku hanyalah gadis sederhana. Parasku biasa saja, tak cantik jelita layaknya dewi surga. Kehidupanku pun tak bergelimang harta. Sejak kecil aku tinggal dengan kedua orang tuaku dengan penuh kedamaian laksana laut yang tenang tak berombak, ketentraman, dan kebahagiaan. Yang aku tahu hanyalah keceriaan yang selalu menyelimuti hari-hariku. Hingga suatu hari yang sangat kelam musibah datang menghampiri keluargaku. Setelah 2 bulan melahirkan adik pertamaku, ibuku mendapat kemalangan. Dia divonis menderita kanker payudara. Sejak kejadian itu, aku tahu kehidupanku yang ceria akan memudar. Senyum yang biasanya menghiasi wajahku perlahan-lahan pergi digantikan dengan gurat wajah kesedihan. Namun, aku berusaha keras untuk tetap tersenyum didepan ibu yang sangat aku cintai itu.
Saat aku tahu ibuku sakit, aku baru kelas 4 SD dan berumur 8 tahun. Aku belum mengerti benar apa itu kanker. Dan seperti apakah kanker itu. Aku hanya tahu bahwa penyakit yang diderita ibu, tidak seperti masuk angin atau pusing kepala yang dapat seketika hilang dengan meminum obat. Ketika kulihat wajah kekhawatiran pada ayah, kakek, nenek, bibi, dan pamanku, aku mulai bertanya-tanya penyakit seperti apakah itu. Mengapa mereka begitu cemas. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tidak terasa 3 tahun sudah ibuku berperang melawan penyakitnya. Dengan tulus, aku merawatnya. Aku berusaha memenuhi apapun yang dia minta. Bermacam-macam pengobatan sudah ibu dan ayahku coba lakukan. Dari sini aku tahu, kanker adalah penyakit yang mematikan.
Tubuh ibuku benar-benar kurus. Dari percakapan ayah dan nenek, aku tahu kanker ibu sudah memasuki stadium 4. Suasana di rumahku saat itu benar-benar berubah. Keceriaan yang dulu hilang entah kemana. Nenekku berkali-kali mengumpat kepada ayahku mengapa dulu dia tidak menerima saja sarannya untuk mengoperasi ibuku. Dari dialog panas itu aku mendengar berbagai alasan mengapa penderita kanker ganas sebaiknya tidak dioprasi. Alasan pertama, sel kanker akan sangat cepat sekali menyebar jika terkena udara luar, alasan kedua 80% penderita mengalami kegagalan operasi dan mereka akan meninggal beberapa bulan setelahnya. Oleh karena itu ayahku memilih jalan alternatif dengan memberikan berbagai ramuan tradisional.
Melihat kondisi ibu, aku takut Allah akan benar-benar memanggilnya sebentar lagi. Ibuku adalah sosok wanita yang sangat luar biasa. Jika dibandingkan dengan Raden Ajeng Kartini, ibuku tetap kunobatkan menjadi pahlawan wanita terhebat. Akhir-akhir ini, ditengah kondisinya yang semakin memburuk, ibuku tidak pernah absen melakukan shalat malam. Di sepertiga malam terakhir, dia gunakan untuk bersujud, bersimpuh, dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Dia menyadari benar bahwa semua yang ada di dunia adalah kepunyaanNya dan akan diminta kembali. Gurat wajah keikhlasan dan keteduhan dicampur kesakitan yang amat sangat memancar dari wajah ibuku. Wajah itulah yang selalu menenangkanku, wajah itulah yang tulus menyayangiku, dan wajah itulah yang penuh peluh keringat membesarkanku.
Hingga suatu pagi yang cerah, kabar mengagetkan sekaligus menyedihkan datang dari Surabaya. Saat itu ibuku sedang menjalani pengobatan alternatif di Surabaya. Memang selama 2 tahun terakhir ini, ibu dan ayahku sering bolak balik dari satu daerah ke daerah lain untuk melakukan pengobatan. Kabar itu bagaikan petir yang tiba-tiba menyambar atap rumahku. Tulang-tulangku seperti lumpuh, dan airmata mengalir membasahi wajah tanpa bisa dicegah. Kabar itu datang dari ayahku. Dia mengatakan bahwa ibuku mengalami patah kaki sebelah kiri karena tidak kuat menyangga berat tubuhnya. Ya Allah, saat itu aku benar-benar menangis. Aku menangis dalam kesendirian. Separah itukan kondisi ibu? Bahkan tulangnya mulai rapuh hingga tak kuat lagi berdiri.. Akhirnya ibu dibawa ke pengobatan alternatif untuk mempercepat penyatuan tulang yang patah.
Saat dibawa pulang, ibuku tidak lagi dapat berjalan. Dia digendong ayahku menuju kekamar. Selama ini tak pernah kulihat dia menangis. Tapi hari itu, aku meliat ibu meneteskan airmatanya. Hatiku perih, hancur, remuk. Entah mengapa melihatnya menangis sangat menyakitkan bagiku. Setiap hari sepulang sekolah, aku berusaha meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk menemani ibu. Karena beliau pasti sangat kesepian dan bosan tidur terus menerus diranjangnya. Terkadang aku menyuapinya, terkadang aku memandikannya, terkadang pula aku menyiapkan tempat untuknya buang air. Suatu saat dia mengatakan maaf karena merepotkanku, dia mengatakannya sambil menangis. Jujur aku tak kuasa. Tapi sekeras mungkin kucoba untuk tidak menangis.
Beberapa bulan kemudian, kondisi kaki ibu, berangsur-angsur membaik. Bahkan sudah dipastikan tulang yang patah telah menyatu kembali. Setelah itu, ayahku dengan pelan dan sangat hati-hati mengajak ibu untuk berlatih berjalan kembali. Meski sangat pelan, ibuku berhasil melawan ketakutannya dan dapat kembali melangkah.
Telah menjadi kebiasaan di minggu pagi, ibu selalu mendengarkan kajian ustad Danu yang bertajuk penyakit hati di salah satu tv nasional. Pagi itu, aku ikut menemaninya. Kajian ustad Danu tentang penyakit hati ini sangat menarik. Ustad Danu dapat mengatakan bahwa segala penyakit sumbernya adalah dari hati. Dalam kajian, beberapa orang bertanya tentang penyakit yang dideritanya dan ustad Danu menjelaskan penyebab timbulnya penyakit berasal dari salah satu penyakit hati yang dipendam. Tiba-tiba satu jama’ah kajian menanyakan hal yang menyita habis perhatianku. Aku yang awalnya bosan melihat acara tersebut langsung memasang telinga dan mataku. Kulirik ibuku, dari tadi dia selalu fokus mendengarkannya. Pertanyaan dari salah satu jama’ah persis seperti kondisi ibuku. Jama’ah tersebut menderita kanker payudara. Kata-kata yang keluar dari ustad Danu sangat kutunggu. Aku ingin mengetahui apa yang menjadi penyebab utama timbulnya penyakit mematikan itu. Jawaban ustad Danu benar-benar mencengangkan. Dengan terus mendengarkan aku melirik ibu, dia sesekali mengangguk mengiyakan penjelasan dari ustad Danu.
Setelah acara kajian itu selesai, kutanya ibu untuk memastikan apa yang tadi kudengar. Aku ingin mendengarkan jawaban langsung darinya.
“Bu, ” panggilku lembut.
“Ada apa ra?”
“Apa benar penyakit ibu datang karena rasa mangkel yang ibu pendam ke ayah?” tanyaku memberanikan diri.
“Kalau menurutmu gimana ra? “
“Aku ngga’ tau bu,”
“Ra, kamu tahu kan, selama ini ibu yang bekerja keras menghidupi kalian. Sedangkan ayahmu setiap usahanya tidak pernah berhasil. Ayahmu tidak memenuhi kewajibannya mencari nafkah untuk keluarga. Sebelum ibu diangkat pegawai negeri seperti ini, gaji ibu tidak akan cukup untuk makan dan menyekolahkanmu. Selama ini, sambil mengajar ibu selingi dengan jualan berbagai macam barang. Ibu juga menjual makanan dan jajan. Kamu juga sering bantuin ibu masak kan kalau pagi. Yang bikin ibu kadang kecewa sama ayah kamu, dia ga pernah ngerti kondisi ibu. Dia ga pernah berusaha membantu ibu. Malahan setiap pagi waktu ibu memasak sendirian, dia masih saja tidur. Dan ketika ibu membangunkan untuk minta dibantuin, ga jarang ibu malah dimarahi ra. “
“Maaf ra, kalau ibu harus cerita seperti ini ke kamu. Ibu pikir kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti ini,” kata ibuku lembut.
“Bu, aku tahu emang kesalahan ayah besar, tapi apa ga sebaiknya ibu minta maaf, bilang sama ayah kalau selama ini ibu menyimpan mangkel sama ayah, seperti yang dibilang ustad danu,” ucapku polos.
“Sudah ra,” kata ibu sambil tersenyum
“Bu, apa ibu ga pernah nyuruh ayah kerja apa gitu,”
“Ibu cerita ya ra, ayah kamu itu dulu orang yang sangat cerdas. Waktu sekolah dia selalu juara. Ayah kamu yang anak pertama, dulu hidupnya cukup menderita. Sejak kecil, dia selalu bantu nenek dan kakekmu kerja, disawah, momong, dan banyak lagi. Karena dulu hidup ayahmu cukup sengsara, sekarang dia tidak ingin merasakan sengsara lagi. Selain itu, ayah kamu ga mau kerja kecil-kecilan, ayah kamu ga mau kerja kasar, ga mau kerja bawahan. Dia maunya kerja yang gajinya langsung banyak. Dia maunya langsung jadi bos.”
“Ibu bilangin ke kamu ya Zhafira, sesuatu yang besar itu dimulai dari sesuatu yang kecil dulu. Kalau kamu liat orang-orang yang sukses disana, mereka pasti melewati saat-saat sulit yang luar biasa. Mereka ga akan mungkin langsung jadi bos, mereka pasti merasakan menjadi bawahan. Tapi prinsip ayahmu lain. Itu yang ga bisa ibu ubah. Makanya kerja apapun, ayahmu sulit berhasil.”
Aku terdiam mendengar cerita ibu. Aku mencoba memahami semua kalimat yang ibu ucapkan. 

Rabu, 21 Mei 2014

SEMUA TENTANGMU (ASTRA HONDA MOTOR)



aku hanya seorang anak kampung yang nekat meninggalkan Emak demi menggapai cita – cita setinggi bintang, di sini”

            Namaku Haryono, aku lahir di sebuah desa kecil yang sebagian besar penduduk bumi ini tidak tahu keberadaannya. Ya, memang sangat terpencil, ia di apit oleh 4 barisan hutan di sisi utara, barat, timur, dan selatannya. Tapi disitulah sisi manisnya, dari sanalah aku lahir, dan aku mencintai tempat kelahiranku. Desa itu bernama Boto, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Delapan belas tahun atau tepatnya 6570 hari aku hidup di sana. Mulai dari melihat dunia pertama kali, hingga merayakan euforia kelulusan masa putih abu-abu.
            Besok, tepatnya tanggal 24 Mei aku berulang tahun yang ke 19. Hmm, sudah hampir setahun aku disini, jauh dari tempat kelahiranku dan orang – orang yang aku cintai. Tak usah ditanya lagi, seberapa banyak rindu yang kurasakan. Kalaupun harus dinominalkan, aku tak tahu berapa deret angka yang tepat untuk dituliskan, tapi mungkin akan lebih tepat jika kutuliskan  (tak terhingga). Jangan bilang aku berlebihan, tapi memang ini yang kurasakan. Bayangkan saja, dalam setahun aku hanya mempunyai waktu bertemu keluargaku tidak lebih dari satu bulan. Tapi apa daya, aku harus mengejar cita – citaku di sini, di Astra Honda Motor. Tempat yang dulu aku impikan.
            Perjuanganku untuk sampai di sini tidak semudah membalikkan telapak tangan, kira – kira begitu peribahasa yang sering diungkapkan orang – orang. Awalnya, aku banyak ditentang. Kakakku yang sekarang menjadi seorang pembela tanah air dengan seragam hijaunya, membuatku dituntut untuk mengikuti jejaknya. Tapi kupikir, bukan disana jiwaku. Hati kecilku pun menolaknya.
“Maafkan aku ayah, ibu, aku tak bermaksud menolak keinginanmu, tapi aku berjanji tak kan mengecewakanmu, aku kan bersungguh – sungguh di sini, aku kan membuatmu bangga meski tak berseragam hijau”, ucapku dalam hati.
            Astra Honda Motor yang terletak di Jalan Raya Kalimantan Blok AA, Cikarang, Jawa Barat adalah tempatku menimba ilmu sekarang ini. Aku bekerja di bagian assy whell, atau biasa disebut pemasangan roda. Aku cukup menikmati hari – hariku pada awalnya. Namun lama kelamaan monoton juga rasanya. Kebosanan pun selalu menghinggapi. Dan ketika “si bosan” datang mengganggu, aku sadar bahwa aku telah terpaut janji suci pada orangtuaku, serta janji pada AHM yang telah tersirat dalam ikrar insan AHM. Meskipun janji tersebut tidak tertera di atas kertas putih dengan pena hitam, aku tetap tidak boleh melanggarnya.
“Akan menjadi suatu pantangan bagi laki – laki sejati untuk melanggar janjinya. Karna seorang lelaki yang baik adalah lelaki yang bisa dipegang omongannya” begitulah yang pernah ibuku ucapkan.
Sampai detik ini, kata – kata itu selalu terngiang – ngiang di kepalaku. Ibuku bak Mario Teguh yang setiap ucapannya menimbulkan bekas yang dalam bagi pendengarnya. Ah, aku mulai rindu padanya. Setiap mililiter rinduku padanya selalu kujadikan motivasi untuk memenuhi janjiku pada AHM. Kenapa AHM? Karena suksesku di AHM berarti janjiku padanya telah kutepati.
Sejujurnya, tidaklah berat apa yang kujanjikan pada tempatku bernaung sekarang ini. Biar kujelaskan. Janjiku yang pertama adalah “selalu disiplin, bertanggung jawab, dan patuh terhadap peraturan perusahaan”, InsyaAllah, akan kupenuhi dengan segenap kemampuanku. Pernah suatu kali, kondisi tubuhku benar – benar dibawah ambang batas normal, singkatnya sakit. Dan saat itu, aku harus bekerja di shift 3. Bingung melandaku saat itu. Haruskah aku membolos? Kulihat jam dinding di tembok kamarku menunjukkan pukul 11.15. Dan aku masih terbalut selimut tebal untuk menahan hawa dingin malam itu. Akhirnya dengan segelintir kekuatan yang tersisa, aku memutuskan untuk tetap masuk. Kuminum sesachet tolak angin, dan berangkat dengan penuh keyakinan bahwa aku pasti kuat.
Berlebihan memang, tapi kurasa disinilah perjuangannya. Semua orang pasti harus berjuang untuk semua yang dicita – citakan. Tak perduli dalam kondisi apapun itu. Seperti salah satu pahlawan kita, sosok yang kita kenal sebagai pemimpin pasukan gerilya. Dengan berbaring di atas tandu dan satu paru – paru tersisa, beliau memperjuangkan cita – citanya yaitu kemerdekaan Negara Indonesia. Jendral Soedirman, seorang jendral sejati yang mungkin tak bisa lagi kita temui Jendral Soedirman – Jendral Soedirman lain di era globalisasi ini.
Dan janjiku yang kedua adalah “menjunjung tinggi produktivitas dan menghasilkan produk yang berkualitas”. Kurasa ini cukup berat, pada awalnya. Tanpa keterampilan, aku sangat kesulitan mengerjakan semua ini. Bayangkan saja, aku seorang lulusan SMA Negeri jurusan IPA. Dan ketika masuk ke sini pertama kali, aku bagaikan tersesat di padang pasir, tak tahu apa yang harus kulakukan. Hal ini pasti sangat jauh berbeda dengan teman – teman seperjuanganku lainnya yang lulusan SMK jurusan otomotif. Tapi hebatnya AHM, kita disini juga belajar. Lihatlah sekarang, aku telah cukup lihai dan terampil dalam menggeluti bidangku.
And the third is “menghargai sesama dan membina kerja sama”. Kuakui kedewasaanku masih sebesar biji jagung. Kurasa aku adalah orang yang cukup egois dalam berbagai hal. Memandang rendah orang lain pun tak luput dari kebisaaanku. Namun, hidupku yang sendiri sekarang, membuatku banyak berfikir. Aku belajar bahwa banyak orang yang awalnya ku anggap remeh, tapi dia jauh lebih hebat dariku. Aku punya seorang teman yang jika kesabarannya diukur, mungkin lebih panjang dari jarak matahari ke bumi. Ia seorang tuna rungu. Tapi hebatnya, ia tetap semangat menjalani hidupnya yang pasti lebih dari sekedar sepi. Malam – malam yang kulalui selama ini terasa sia – sia. Tak ada satupun hal membanggakan yang telah kubuat. Padahal aku dianugerahi kesempurnaan.
Last, “senantiasa menjaga dan membela Astra Honda Motor sebagai sawah ladang kami”. Dan inilah janji terakhir yang kadang pelaksanaanya digoyahkan oleh ketidakonsistenan dan godaan – godaan teman, bukan setan. Ketidakkonsistenan itu muncul saat “si bosan” dengan tidak bosan mengganggu pikiran ini setiap saat. Ajakan suara hati dan didukung oleh godaan teman – temanku untuk mencari tempat bernaung lain, membuatku terombang ambing oleh gelombang kebingunganku sendiri. Kegalauanku bisa saja dengan mudahnya menghancurkan tembok keimananku belajar di AHM, yang kubangun kuat – kuat menggunakan semen holcim, yang dipercaya tidak akan hancur di cuaca apapun. Namun nyatanya, iklan semen holcim itu palsu. Tembok itu sekarang sudah mulai keropos bak tulang yang osteoporosis karena tidak meminum anlene.
Tapi, seperti halnya tulang yang osteoporosis, kekeroposan itu dapat diobati dengan banyak hal, misalnya meminum anlene, atau jalan kaki seribu langkah setiap hari. Tembok keimananku pun dapat dikuatkan lagi. Dan hal yang paling menguatkannya adalah janjiku serta suara musik serta lirik lagu mars AHM yang masih tersimpan di memori ponselku. Entahlah, aku enggan untuk mendeletenya. Bahkan kadang kusetel kembali, minimal untuk mengingatkan bahwa aku punya cita – cita setinggi bintang yang ingin kucapai di sini.
Walaupun, sebagian besar orang berfikir lagu mars itu nggak keren, tapi aku bangga bisa mendengarnya. Aku bahkan yakin tidak semua orang bisa menyimpan lagu ini di memori ponselnya. Berbeda halnya dengan lagu – lagu coldplay yang dianggap keren. Semua orang di muka bumi ini bisa saja mendownloadnya dengan percuma dan menyimpannya di ponsel mereka. Alasan lain yang membuatku menyimpan lagu “nggak keren menurut sebagian besar orang” itu adalah getaran di segenap jiwaku setiap mendengar liriknya. Entah kenapa, sejak pertama diperdengarkan aku telah jatuh cinta pada semuanya, lagu itu, perusahaan ini, teman – temanku di sini, bahkan ban – ban kendaraan yang kuperlakukan lebih dari kekasihku. Ya iyalah, kurang lebih 10 jam aku hanya berkutat dengan ban, kalau dengan pacar? Mana boleh? Hehe.
Dari rasa cinta itu, mulai tumbuh rasa bangga dengan tempat ini. Tempat yang memberiku pengalaman yang luar biasa berharga. Telah menjadi kewajiban bagiku untuk melakukan yang terbaik demi tempat ini. Kemajuan perusahaan AHM bergantung pada karya yang kita ciptakan. Yang bisa kulakukan adalah bekerja dibidangku dengan sungguh – sungguh, menjaga perusahaan ini lebih dari aku menjaga jiwaku, menggapai cita – cita yang selalu kukhayalkan dulu, serta berbuat baik kepada semua, baik rekan kerja maupun atasan yang biasanya lebih galak, hehe. Keinginanku untuk tinggal di sini sangatlah besar. Bahkan kalau bisa, aku ingin meminta izin untuk menghabiskan masa tuaku di sini. Aku memang selalu berlebihan dalam mengungkapkan berbagai hal. Namun ketahuilah, itu semua karena aku begitu mencintai tempat ini. Memang benar kata pepatah, “cinta itu bisa merubah segalanya”.
Tapi apa daya, kalau memang masa kontrak ini sudah tak bisa diperpanjang lagi, aku memang harus menginjakkan kaki untuk pergi dari sini. Bukan diusir, itu terlalu kasar. Hanya mengikuti aturan bahwa mulai tanggal tertentu aku sudah tidak diperkenankan lagi berkarya di sini. Tapi seperti dalam surat Al Insyirah “sesunguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”, setiap masalah pasti ada solusinya itu janji Allah. Kontrak kerja tersebut dapat diperpanjang, bila memang benar – benar bersungguh – sungguh. Caranya adalah dengan membuat sebanyak mungkin proposal. Dan rencananya, aku akan terus membuat proposal yang jika di timbang berapa banyaknya, mungkin lebih berat dari pada berat gajah lampung dewasa. Selain diperpanjang, kita juga bisa diangkat menjadi pegawai tetap disini. Yang diperlukan hanyalah bekerja keras dan taat peraturan.
Sangat disayangkan, Indonesia belum bisa membuat perusahaan perakit kendaraan sendiri. Kita hanya bergantung pada Negara lain dan tidak mempercayai kemampuan kita sendiri. Seperti pesawat buatan bapak habibi, yang mungkin sekarang ini berada di gudang lusuh, dan yang menaikinya dalah tikus – tikus. Dulu, tak ada satupun orang percaya bahwa pesawat tersebut dapat digunakan. Mereka menganggap karya Indonesia tidak akan baik dan mengancam keselamatan. Pesimistis, itu kata yang tepat untuk mengomentari peristiwa tersebut. Sebenarnya jutaan orang di Indonesia ini pandai dalam berbagai hal. Entahlah, mental kita yang buruk membuat kita terbelakang dan takut untuk memulai segala sesuatu.
Tapi dibalik itu semua, aku tetap mencintai tanah tempatku berpijak sekarang ini. Tanah yang memberiku kehidupan dan kedamaian. Tanah yang airnya menyelamatkanku dari kehausan. Serta tanah yang darinya tumbuh padi menguning yang menghindarkanku dari kelaparan. Suatu keharusan bagi kita semua sebagai generasi penerus Negara ini memberikan timbal balik atas apa yang bangsa ini telah berikan kepada kita. Dan apa yang bisa kuberikan? Mungkin karya terbaikku yang kuciptakan lewat Astra Honda Motor ini. Yang nantinya, produk AHM dipergunakan oleh orang – orang Indonesia. Setidaknya, kita di AHM menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.
Lampiran

IKRAR INSAN AHM
Kami insan astra Honda motor berjanji
1.      Selalu disiplin, bertanggungjawab, dan patuh terhadap peraturan perusahaan
2.      Menjunjung tinggi produktivitas dan menghasilkan produk yang berkualitas
3.      Menghargai sesama dan membina kerja sama
4.      Senantiasa menjaga dan membela Astra Honda Motor sebagai sawah ladang kami.

MARS AHM
Astra Honda motor tempat kita berkarya
Tempat menggapai cita – cita kita
Mari kita jaga, kita bela bersama
Capai masa depan cerah sejahtera
Nilai satu hati falsafah kita
Satukan visi misi kita bersama
AHM milik kita
AHM ladang kita
Untuk harumkan nusa dan bangsa